IHSG Berpotensi Menguat Hari Ini dan Cek 4 Saham Rekomendasi Analis

IHSG Berpotensi Menguat Hari Ini dan Cek 4 Saham Rekomendasi Analis
Ilustrasi IHSG.

JAKARTA — Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang bergerak menguat menguji rentang level 6.541 hingga 6.581 pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Beberapa saham seperti ADMR, BMRI, BRPT, dan DSSA masuk ke dalam daftar rekomendasi analis.

Tim Analis MNC Sekuritas mencatat bahwa IHSG mengalami kenaikan tipis 0,4 persen ke posisi 6.462 pada perdagangan Kamis (17/9/2026) yang disertai adanya volume pembelian. Meskipun demikian, laju IHSG masih belum sanggup menembus moving average (MA) 20.

Berdasarkan analisis teknikal, MNC Sekuritas menyampaikan bahwa dalam skenario terburuk, IHSG diperkirakan berada pada bagian dari wave iv dari wave (c) label hitam. Hal ini membuat pergerakan indeks masih rawan untuk menguji kembali rentang area 6.290 hingga 6.370.

MNC Sekuritas menambahkan, selama IHSG mampu bertahan di atas level 6.370, indeks tetap menyimpan potensi menguat menuju kisaran 6.541 hingga 6.581. Level support IHSG diproyeksikan berada pada 6.279 dan 6.201, sementara level resistance berada di 6.585 dan 6.633.

Dari sudut pandang sentimen, pelaku pasar turut mencermati efek kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed terhadap pasar modal Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai hanya memberi dampak terbatas, sementara perhatian investor mulai beralih pada arah kebijakan The Fed selanjutnya.

Pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 15–16 September 2026, The Fed menaikkan suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen. Penyesuaian ini menjadi kenaikan pertama sejak 2023 sekaligus menegaskan sikap kebijakan yang lebih hawkish.

Investment Specialist Syailendra Capital Adrian Polisar menjelaskan bahwa dampak kenaikan suku bunga AS terhadap pasar keuangan Indonesia tergolong terbatas. Kondisi ini terlihat dari kenaikan yield US Treasury (UST) yang tidak dibarengi lonjakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun dalam besaran setara, serta nilai tukar rupiah yang relatif stabil.

Tekanan di pasar AS yang membesar dapat meningkatkan risiko pelemahan rupiah dan risk premium pasar berkembang. Namun, respons serta penentuan waktu kebijakan The Fed bakal menjadi elemen krusial dalam menentukan seberapa besar dampaknya terhadap pasar modal domestik.

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengungkapkan bahwa kenaikan suku bunga 25 bps sudah diantisipasi pasar. Arah pergerakan IHSG kini tidak lagi melulu dipengaruhi oleh keputusan tersebut, melainkan oleh panduan arah kebijakan atau forward guidance Kevin Warsh serta proyeksi suku bunga ke depan.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyebutkan bahwa fokus pasar selanjutnya bergeser ke arah panduan kebijakan The Fed. Kombinasi kenaikan yield UST, penguatan dolar AS, serta tingginya harga minyak berpotensi memperbesar tekanan terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Fokus pasar domestik selanjutnya akan tertuju pada imbasnya terhadap nilai tukar rupiah, arus modal asing, serta ruang gerak kebijakan Bank Indonesia. Di samping itu, implementasi langkah awal kebijakan Menteri Keuangan Suahasil Nazara juga menjadi perhatian utama.

Investment Analyst Lead Stockbit Edi Chandren dan Investment Analyst Bibit Idris Aryo berpandangan bahwa lonjakan indeks dolar AS (DXY) tetap menyimpan risiko terhadap nilai tukar rupiah dan dapat membebani IHSG. Namun, potensi tekanan terhadap IHSG diperkirakan terbatas lantaran penyesuaian suku bunga bertahap telah diprediksi oleh pasar sebelumnya.

Pada pembukaan perdagangan pukul 09.01 WIB, IHSG bergerak menguat 0,73 persen atau naik 47,45 poin menuju level 6.509,88. Saat sesi I berakhir, IHSG ditutup melemah 0,35 persen atau turun 22,68 poin ke posisi 6.439,74.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index