JAKARTA - Mata uang rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Nilai tukar diproyeksikan berada di kisaran Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Berdasarkan data TradingView, rupiah ditutup melemah 0,01 persen ke level Rp17.696 per dolar AS pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Di kawasan Asia, mata uang rupiah dan won Korea menjadi dua mata uang yang melemah, masing-masing sebesar 0,01 persen dan 0,23 persen.
Sementara itu, sejumlah mata uang Asia lainnya menguat. Baht Thailand naik 0,05 persen, ringgit Malaysia 0,25 persen, yuan China 0,06 persen, rupee India 0,01 persen, dan peso Filipina 0,16 persen. Penguatan juga terjadi pada dolar Taiwan sebesar 0,20 persen, dolar Hong Kong 0,01 persen, dan yen Jepang 0,06 persen.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan pelaku pasar saat ini tengah menantikan keputusan suku bunga The Fed. Pasar memprediksi bank sentral AS tersebut akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen. Perhatian pasar juga tertuju pada proyeksi ekonomi The Fed serta komentar Kevin Warsh mengenai arah kebijakan suku bunga.
Sementara dari dalam negeri, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan disiplin serta kredibilitas pengelolaan APBN.
“Komitmen menjaga defisit APBN di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap penting untuk mempertahankan kepercayaan terhadap fiskal Indonesia. Namun, kondisi global yang masih ditandai mahalnya global duration dan permintaan domestik yang belum fully kuat membutuhkan kehati-hatian dalam menentukan kecepatan konsolidasi,” katanya dalam keterangan resminya, Rabu (16/9/2026).
Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$453,4 miliar per Juli 2026. Angka tersebut tumbuh 4,9 persen secara tahunan (year-on-year), terutama dipengaruhi peningkatan utang luar negeri publik di tengah penurunan ULN swasta.
Untuk perdagangan Kamis (17/9/2026), Ibrahim memprediksi rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS.
“Sedangkan untuk perdagangan Kamis (17/9), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp.17.690 - Rp.17.750,” katanya.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 0,38 persen atau 68 poin ke level Rp17.764 per dolar AS, sementara indeks dolar AS menguat 0,09 persen ke posisi 100,34.
Tekanan berlanjut hingga pukul 11.40 WIB dengan rupiah melemah 0,32 persen atau 57 poin ke posisi Rp17.753 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan sore hari pukul 15.11 WIB, rupiah resmi ditutup melemah 0,32 persen atau 57 poin di level Rp17.753 per dolar AS, seiring indeks dolar AS yang melandai 0,05 persen ke posisi 100,20.