Cinta Laura Soroti Fenomena Anxious Generation di Kalangan Muda Indonesia

Cinta Laura Soroti Fenomena Anxious Generation di Kalangan Muda Indonesia
Cinta Laura Soroti Fenomena Anxious Generation di Kalangan Muda Indonesia

SINAR24.COM — Aktris Cinta Laura menyoroti fenomena generasi cemas atau anxious generation yang dinilainya tengah melanda kalangan muda Indonesia. Dalam peluncuran riset DBS Foundation, ia menekankan pentingnya keluar dari pola pikir serba instan agar generasi muda mampu bertahan hidup dan menjadi lansia mandiri di masa depan.

JAKARTA — Aktris Cinta Laura menilai generasi muda Indonesia saat ini terjebak dalam budaya serba instan yang membahayakan daya tahan hidup jangka panjang. Pandangan itu disampaikannya dalam peluncuran riset bertajuk "Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?" yang digelar DBS Foundation di Jakarta.

Menurut Cinta, tantangan terbesar anak muda bukanlah ketidakpedulian terhadap masa depan. Persoalannya, mereka terlalu tenggelam pada apa yang terjadi saat ini dan merasa layak mendapat kepuasan instan.

"Enggak bisa dipungkiri, aku memiliki sebuah kegelisahan untuk generasiku maupun yang di bawahku, karena kami memang bisa dibilang anxious generation," ujar Cinta Laura di Jakarta.

Terpaku pada Kepuasan Jangka Pendek

Cinta menjelaskan, era digital membuat banyak anak muda enggan melalui proses sulit untuk mencapai tujuan. Mereka cenderung mencari jalan pintas demi kepuasan jangka pendek.

"Mereka merasa layak mendapatkan instant gratification atau merasa tidak mau melalui proses atau perjalanan yang sulit agar bisa mencapai apa yang mereka inginkan," tuturnya.

Pola pikir itu, kata Cinta, berbahaya bagi ketahanan generasi muda. Ia menegaskan bahwa kesuksesan dalam hal apa pun membutuhkan waktu.

"Dan itu sangat berbahaya (very dangerous), karena tentunya success in anything good takes time," imbuh Cinta.

Literasi Finansial Harus Dimulai dari Hal Mendasar

Cinta juga menyoroti pendekatan literasi keuangan yang dinilainya kerap memukul rata kondisi ekonomi masyarakat. Menurutnya, literasi finansial di negara berkembang seperti Indonesia harus dimulai dari hal paling dasar.

"Kalau kita omongin financial literacy, kita tidak bisa berekspektasi seorang yang datang dari menengah ke bawah akan mengerti reksadana itu apa, obligasi itu apa," jelasnya.

Ia menambahkan, perencanaan keuangan bagi anak muda sangat bergantung pada latar belakang ekonomi mereka. Langkah paling krusial adalah memahami arus keuangan harian.

"I think we should start with the very, very basic, yaitu mengerti expenses (pengeluaran) kita, pendapatan kita, and so on and so forth," tegas Cinta.

Indonesia Mulai Masuki Fase Populasi Menua

Pandangan Cinta muncul di tengah transisi demografi yang tengah berlangsung di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat proporsi lansia mencapai 12 persen pada 2025.

Angka itu berpotensi melonjak hingga 20 persen pada 2045. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada fase populasi menua atau ageing society.

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menilai persiapan menghadapi populasi menua idealnya dimulai sejak usia kerja. Kesiapan sosial dan finansial menjadi kunci.

"Persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif," ujar Mona.

Ia menyatakan komitmen DBS Foundation mendukung kesiapan masyarakat rentan agar lebih tangguh. Dukungan itu disalurkan melalui peningkatan akses pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, hingga literasi keuangan dan persiapan pensiun.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index