SINAR24.COM — Valve memastikan pengembangan penerus Steam Deck tidak terpengaruh krisis pasokan RAM yang tengah melanda industri elektronik. Kepastian ini muncul meski dua perangkat lain Valve, Steam Machine dan headset VR Steam Frame, harus dirilis dengan harga lebih mahal dari rencana awal.
Pengembang perangkat lunak Valve, Pierre-Loup Griffais, mengungkapkan bahwa pihaknya tetap berkomitmen menghadirkan peningkatan performa yang jelas untuk penerus Steam Deck. Ia menjawab singkat "tidak juga" ketika ditanya apakah kelangkaan komponen mengubah pendekatan Valve terhadap konsol genggam tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Griffais dalam wawancara dengan jurnalis IGN, Jacqueline Thomas. Valve sebelumnya dikenal lewat Steam Deck yang berbasis Linux dan sukses membawa PC genggam ke pasar mainstream berkat harga terjangkau.
Krisis RAM Tekan Harga Perangkat Baru Valve
Gelombang kelangkaan memori dan komponen semikonduktor telah memukul lini produk terbaru Valve. Headset VR Steam Frame diluncurkan dengan banderol USD 1.059, lebih tinggi dari perkiraan awal perusahaan.
Steam Machine juga disebut sebagai produk rekayasa premium yang lahir di tengah kondisi ekonomi makro kurang menguntungkan. Dua perangkat itu menjadi gambaran nyata betapa mahalnya merakit hardware baru saat ini.
Pertanyaannya, apakah penerus Steam Deck masih bisa mempertahankan harga bersaing seperti pendahulunya? Steam Deck generasi pertama dijual di rentang USD 399 hingga USD 649.
Performa Steam Deck Generasi Pertama Mulai Tertinggal
Steam Deck pertama mengandalkan APU custom berbasis arsitektur Zen 2 dan RDNA 2. Chip ini mulai kesulitan menjalankan game AAA yang dirilis beberapa tahun terakhir.
Sejumlah PC genggam berbasis Windows menawarkan performa lebih tinggi, tetapi dengan harga jauh di atas Steam Deck. ASUS ROG Ally X dibanderol mulai USD 999,99, sementara MSI Claw 8 EX AI+ mendekati USD 1.800.
Selisih harga itu sangat jauh dari target pasar yang selama ini dibidik Valve. Inilah dilema yang dihadapi perusahaan: menghadirkan prosesor custom dan komponen pendukung untuk produksi massal tanpa membuat harganya melampaui daya beli konsumen umum.
Kapan Steam Deck 2 Bakal Muncul?
Griffais menegaskan Valve ingin memastikan ada lompatan performa yang terukur sebelum merilis penerus Steam Deck. Target itu tidak berubah meski tekanan biaya komponen meningkat.
Namun, pernyataan bahwa rencana tidak berubah tidak otomatis berarti harga jualnya akan sama dengan generasi pertama. Valve kini terjepit antara kebutuhan menghadirkan hardware bertenaga dan tuntutan menjaga harga tetap ramah kantong.
Masuk akal bila kabar konkret soal Steam Deck 2 baru muncul beberapa tahun lagi. Bagi pengguna di Indonesia yang menantikan konsol genggam ini, kepastian soal harga dan ketersediaan resmi masih harus ditunggu lebih lama.