Cara Tepat Mengolah Batang Lompong Agar Tidak Gatal

Kamis, 29 Januari 2026 | 15:54:41 WIB
Cara Tepat Mengolah Batang Lompong Agar Tidak Gatal

JAKARTA - Batang lompong atau batang talas merupakan bahan pangan tradisional yang telah lama dimanfaatkan masyarakat Indonesia. 

Di berbagai daerah, bahan ini kerap diolah menjadi sayur santan, lodeh, atau tumisan sederhana yang memiliki cita rasa khas. Meski tampak sederhana, batang lompong menyimpan potensi gizi dan rasa yang baik jika diolah dengan teknik yang tepat.

Namun, pengalaman tidak menyenangkan kerap membuat sebagian orang enggan mengonsumsinya. Sensasi gatal, panas, atau perih di mulut dan tenggorokan sering muncul akibat pengolahan yang kurang benar. Kondisi ini memunculkan anggapan keliru bahwa batang lompong berbahaya untuk dikonsumsi.

Padahal, persoalan tersebut bukan berasal dari bahan dasarnya, melainkan dari cara pengolahannya. Batang lompong mengandung kalsium oksalat yang dapat memicu iritasi jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu, pemahaman teknik pengolahan menjadi kunci agar lompong aman dan lezat disantap.

Penyebab Rasa Gatal pada Batang Lompong

Batang lompong berasal dari tanaman talas yang mengandung senyawa antinutrisi berupa kalsium oksalat. Senyawa ini berbentuk kristal mikroskopis tajam menyerupai jarum. Ketika dikonsumsi mentah atau kurang matang, kristal tersebut dapat mengiritasi jaringan mulut dan tenggorokan.

Selain kalsium oksalat, batang lompong juga mengandung getah alami. Getah ini dapat memperparah rasa gatal dan tidak nyaman jika tidak dibersihkan dengan baik. Kombinasi kedua zat inilah yang sering menjadi penyebab utama keluhan setelah mengonsumsi lompong.

Kadar oksalat pada batang talas tidak selalu sama. Faktor varietas tanaman, usia panen, dan lingkungan tumbuh memengaruhi kandungannya. Meski demikian, hampir semua batang lompong tetap memerlukan perlakuan khusus sebelum dimasak.

Tahap Awal Pengolahan yang Wajib Dilakukan

Langkah pertama adalah mengupas kulit luar batang lompong hingga bersih. Bagian luar ini berserat dan mengandung lebih banyak getah dibandingkan bagian dalamnya. Pengupasan membantu mengurangi jumlah zat penyebab gatal sejak awal proses.

Setelah dikupas, batang lompong perlu dicuci bersih dan dipotong sesuai kebutuhan. Taburkan garam dapur secukupnya, lalu remas batang lompong hingga agak layu. Proses ini membantu menarik keluar getah dan sebagian oksalat dari jaringan batang.

Diamkan hasil remasan selama beberapa menit sebelum dibilas kembali. Pembilasan bertujuan menghilangkan sisa getah dan kristal yang terlepas. Tahapan ini tidak boleh dilewatkan karena sangat menentukan hasil akhir masakan.

Teknik Perebusan dan Proses Memasak

Perebusan menjadi tahap penting dalam menurunkan kadar oksalat. Batang lompong harus dimasukkan ke dalam air yang sudah benar-benar mendidih. Perebusan selama lima hingga sepuluh menit membantu melarutkan oksalat ke dalam air.

Setelah direbus, batang lompong harus ditiriskan dan air rebusannya dibuang. Langkah ini memastikan oksalat terlarut tidak kembali terserap. Batang lompong kemudian siap diolah menjadi berbagai masakan.

Saat memasak, gunakan bumbu yang ditumis hingga harum untuk memperkaya rasa. Tambahkan air atau santan, lalu masukkan batang lompong yang telah direbus. Proses memasak harus berlangsung hingga lompong benar-benar empuk dan matang sempurna.

Manfaat Gizi dan Peluang Pemanfaatan

Batang lompong yang diolah dengan benar aman untuk dikonsumsi dan memiliki nilai gizi cukup baik. Bahan ini mengandung serat, vitamin A, vitamin C, serta sejumlah mineral penting. Kandungan seratnya membantu pencernaan dan mendukung kesehatan tubuh.

Tekstur batang lompong yang lembut dan sedikit berlendir justru menjadi ciri khas yang disukai. Dalam berbagai masakan tradisional, tekstur ini memberikan sensasi tersendiri saat disantap. Hal tersebut menjadikan lompong tetap relevan dalam kuliner Nusantara.

Pemanfaatan batang lompong juga mendukung prinsip pengolahan pangan berkelanjutan. Mengolah seluruh bagian tanaman membantu mengurangi limbah dan meningkatkan nilai ekonomi. Dengan teknik yang tepat, bahan tradisional ini dapat terus dilestarikan dan dinikmati lintas generasi.

Terkini

10 Rekomendasi Smartwatch Untuk Olahraga Terbaik

Kamis, 29 Januari 2026 | 20:20:23 WIB

Jasa Marga Optimalkan Kenyamanan Tol Jakarta Tangerang

Kamis, 29 Januari 2026 | 15:54:54 WIB

KAI Siapkan Mudik Lebaran Aman dan Nyaman 2026

Kamis, 29 Januari 2026 | 15:54:54 WIB

Panduan Lengkap Pemutihan BPJS Kesehatan Menjelang 2026

Kamis, 29 Januari 2026 | 15:54:54 WIB