Saham Konglomerasi Bermarket Kecil Masih Tersembunyi Di Balik Raksasa

Senin, 26 Januari 2026 | 15:58:24 WIB
Saham Konglomerasi Bermarket Kecil Masih Tersembunyi Di Balik Raksasa

JAKARTA - Sejak tahun lalu, saham-saham milik konglomerasi menjadi penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan. 

Sejumlah emiten bahkan mencatatkan kapitalisasi pasar yang terus membengkak.

Namun di balik dominasi tersebut, terdapat fakta menarik yang kerap luput dari perhatian investor. Tidak semua saham milik konglomerat berstatus raksasa.

Sebagian justru masih berada di kategori kapitalisasi kecil. Meski berada di bawah payung grup besar, valuasi pasarnya masih tergolong mini.

Tidak Semua Entitas Tumbuh Merata

Banyak investor cenderung menyamakan nama besar konglomerat dengan kekuatan seluruh entitas bisnisnya. Padahal, struktur grup bisnis sering kali bertingkat.

Dalam satu grup, biasanya hanya beberapa entitas yang menjadi tulang punggung utama. Entitas lain berada di lapisan kedua atau ketiga.

Perbedaan fokus bisnis, kinerja, dan prospek membuat pertumbuhan valuasi antarentitas tidak selalu sejalan. Hal ini tercermin dari kapitalisasi pasar saham-sahamnya.

Dominasi Grup Besar dan Pengecualian

Grup Prajogo Pangestu menjadi contoh konglomerasi dengan dominasi kuat dari sisi kapitalisasi pasar. Saham-saham utamanya berkontribusi besar terhadap IHSG.

Namun pola tersebut tidak sepenuhnya berlaku di grup lain. Pada sejumlah konglomerasi, hanya sebagian kecil emiten yang memiliki valuasi besar.

Saham afiliasi lainnya masih tertinggal, meski berada dalam ekosistem bisnis yang sama dan memiliki akses sumber daya grup.

Saham Mini di Bawah Grup Ternama

Di Grup Haji Isam, Fast Food Indonesia Tbk dan Dana Brata Luhur Tbk masih berada di kisaran kapitalisasi sekitar Rp2 triliun. Nilai ini tergolong kecil.

Kondisi serupa terlihat pada Grup Bakrie. Visi Media Asia Tbk dan Graha Andrasentra Propertindo Tbk masih bertahan di bawah Rp1,5 triliun.

Padahal, grup ini telah lama berkecimpung di sektor media, energi, dan properti. Usia dan pengalaman belum tentu berbanding lurus dengan valuasi pasar.

Kasus Aguan, Emtek, dan Arsari

Pada Grup Aguan, Jakarta International Hotels & Development Tbk serta Primadaya Plastisindo Tbk masih masuk kategori small cap. Keduanya belum mencerminkan skala grup induk.

Di Grup Emtek, Cahaya Aero Services Tbk dan Kedoya Adyaraya Tbk menempati lapisan bawah struktur bisnis. Perlu dicatat, RSGK masih berstatus suspensi.

Sementara itu, Grup Arsari yang terkait Hashim Djojohadikusumo memiliki Kioson Komersial Indonesia Tbk dengan kapitalisasi sekitar Rp178 miliar. Era Media Sejahtera Tbk juga masih di bawah Rp2 triliun.

Makna di Balik Market Cap Mini

Keberadaan saham bermarket kecil dalam grup konglomerasi menunjukkan bahwa valuasi ditentukan kinerja, bukan sekadar nama besar. Investor tetap menilai prospek masing-masing entitas.

Saham-saham ini kerap berada di posisi buncit dalam grupnya. Meski demikian, status tersebut tidak selalu berarti minim potensi.

Bagi investor, kondisi ini justru menjadi bahan pertimbangan menarik. Saham konglomerasi bermarket kecil menyimpan cerita tersendiri di tengah dominasi raksasa bursa.

Terkini