Imbas Stok Melimpah Harga Telur di Polman Turun Jadi Rp37 Ribu

Imbas Stok Melimpah Harga Telur di Polman Turun Jadi Rp37 Ribu
Ilustrasi Telur Ayam.

JAKARTA - Penurunan harga komoditas telur menjadi angin segar bagi para pelaku usaha kuliner kue, seperti yang dirasakan oleh Hasni, seorang pengusaha brownies lumer asal Desa Bumimulyo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar).

Hasni mengakui bahwa merosotnya harga telur di pasaran sangat efektif membantu dirinya dalam menekan pengeluaran biaya produksi kue harian.

Sebab, untuk keperluan operasional setiap hari, ia memerlukan pasokan sedikitnya 300 butir telur atau setara dengan 10 rak untuk meracik adonan kue brownies.

“Kami merasa sangat terbantu dengan turunnya harga telur, pengeluaran jadi berkurang sehingga lebih semangat menjalankan usaha,” kata Hasni kepada wartawan.

Dirinya memaparkan bahwa dengan beban biaya produksi yang jauh lebih rendah, margin keuntungan dari hasil usahanya kini otomatis mengalami peningkatan.

Langkah mempertahankan harga jual produk eceran tetap sengaja diambil Hasni agar jalinan relasi dengan para pelanggan setianya tidak terputus atau berpindah ke tempat lain.

“Alhamdulillah, sejak harga telur turun keuntungan yang kami peroleh setiap hari juga meningkat,” ucapnya.

Hasni memasarkan produk brownies lumernya dengan patokan harga mulai dari Rp10 ribu sampai dengan Rp50 ribu untuk setiap kemasan.

Dalam kurun waktu satu hari, ia sanggup memproduksi sekitar 200 pak brownies berbentuk persegi panjang dan 100 pak brownies bulat guna menyuplai pesanan pembeli.

Dirinya menaruh harapan besar agar nominal harga telur yang saat ini menyentuh Rp37 ribu per rak tidak kembali merangkak naik dalam waktu dekat.

Pada momen sebelumnya, dilaporkan bahwa harga telur mengalami penyusutan nilai yang cukup tajam hingga menyentuh angka Rp37 ribu per rak dari yang semula berada di kisaran Rp52 ribu per rak di Pasar Polewali, Polman.

Jajaran pedagang menyampaikan bahwa anjloknya harga komoditas ini dipicu oleh situasi kelebihan pasokan atau over produksi dari wilayah luar daerah.

Fase penurunan nilai jual telur ini diketahui sudah bergulir selama dua bulan terakhir yang terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu.

Di sisi lain, pergerakan aktivitas perdagangan dari para penjual telur di area kompleks pasar tersebut terpantau masih relatif lengang dari kepungan konsumen.

Tumpukan stok telur dalam wadah rak tampak tersusun dengan rapi serta menggunung di area lapak jualan milik masing-masing pedagang setempat.

Walaupun nilai tebus komoditas telur sudah merosot tajam, para pedagang mengeluhkan tingkat kunjungan masyarakat yang justru masih sangat sepi.

“Sudah dua bulan ini berlangsung harga telur turun drastis, penyebabnya karena stok melimpah dari Sidrap,” kata pedagang, Maryani kepada wartawan.

Maryani menjabarkan bahwa merosotnya harga tersebut berakar dari membanjirnya pasokan telur yang didatangkan dari wilayah Sidrap, Sulawesi Selatan.

Dirinya menambahkan bahwa volume kiriman telur dari Sidrap memang tergolong amat melimpah sehingga memicu jatuhnya harga di tingkat pengecer.

Ironisnya, kendati harga beli sudah sangat terjangkau, denyut nadi transaksi jual beli di pasar justru lesu tanpa adanya lonjakan grafik pembelian.

“Pembeli juga malah sepi, tidak ada peningkatan, kalau faktor karena Makan Bergizi Gratis (MBG) libur, saya rasa pengaruhnya hanya sedikit,” ungkapnya.

Maryani menilai bahwa berhentinya operasional program MBG sementara waktu tidak membawa dampak yang terlalu signifikan terhadap penurunan harga ini.

Hal itu didasari fakta bahwa penurunan drastis harga telur tersebut sejatinya telah mulai berlangsung sejak kurun waktu dua bulan belakangan.

Dinamika ini sudah berjalan jauh hari sebelum masa libur sekolah tiba, di mana skema menu santapan harian program tersebut biasanya selalu menyertakan olahan telur.

“Sekarang produksi telur melimpah di peternak, sementara pembeli berkurang, itu yang jadi penyebabnya,” sebut Maryani.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index