JAKARTA - Tangisan seorang anak kerap kali memicu rasa cemas sekaligus kebingungan di benak orang tua. Kondisi ini membuat tidak sedikit dari mereka refleks memberikan tindakan spontan hanya demi menyudahi tangisan tersebut secepat mungkin.
Padahal, menangis bukan hanya sekadar tumpahan emosi belaka, melainkan merupakan media bagi anak untuk mengekspresikan apa yang sedang dirasakannya di saat mereka belum sanggup mengutarakannya lewat susunan kata.
Oleh sebab itu, model respons yang ditunjukkan oleh orang tua ketika mendapati sang buah hati menangis dapat memengaruhi pola mereka dalam mendeteksi dan mengendalikan emosi saat tumbuh dewasa nanti.
Sayangnya, beberapa pola kebiasaan yang selama ini dianggap ampuh meredakan tangisan anak justru dinilai kurang tepat apabila terus-menerus diterapkan. Menyadur berbagai sumber, berikut rumpun kesalahan orang tua saat anak menangis.
Salah satu bentuk kekeliruan yang paling kerap dijumpai di tengah keluarga adalah langsung mengutarakan kalimat seperti, "Sudah, jangan nangis," atau "Kamu baik-baik saja."
Melansir data dari Your Parenting Mojo, seruan semacam itu justru mendorong anak untuk membiasakan diri memendam emosinya, bukannya belajar mengenali atau mengendalikan perasaan tersebut.
Padahal ketika sedang menangis, anak sejatinya tengah berupaya mengomunikasikan rasa sedih, kekecewaan, ketakutan, ataupun rasa frustrasi. Alih-alih memaksanya diam, orang tua disarankan memvalidasi perasaannya.
Langkah penanganan yang bijak bisa dilakukan lewat untaian kalimat sederhana seperti, "Kamu sedih karena mainannya rusak, ya?" Pendekatan emosional semacam ini akan menstimulasi anak agar merasa lebih dipahami.
Fenomena lain yang sering terjadi adalah tindakan orang tua yang terburu-buru menyodorkan aneka camilan, mainan baru, hingga gawai pintar agar tangisan sang anak bisa segera reda seketika.
Strategi instan ini memang terbukti sanggup menyetop tangisan dalam durasi singkat, namun langkah tersebut sama sekali tidak menyelesaikan akar masalah emosi yang sedang bergejolak pada diri anak.
Pada dasarnya, anak-anak membutuhkan ruang dan kesempatan untuk merasakan pergolakan emosinya terlebih dahulu sebelum mereka akhirnya mampu menenangkan diri secara mandiri.
Jika setiap air mata yang jatuh selalu ditebus dengan pemberian hadiah, anak dikhawatirkan bakal terbiasa mencari pelarian dari faktor eksternal setiap kali mereka dihadapkan pada situasi emosi yang tidak nyaman.
Di mata orang dewasa, sepotong biskuit yang remah patah atau sebuah mainan yang mengalami kerusakan mungkin dianggap sebagai perkara yang sangat sepele dan tidak berarti.
Namun bagi sudut pandang anak-anak, kejadian kecil tersebut bisa terasa seperti masalah yang sangat besar karena sistem pengelolaan emosi di dalam diri mereka masih berada dalam tahap perkembangan.
Atas dasar itu, orang tua sangat dilarang untuk meremehkan pemicu di balik tangisan anak. Boleh jadi, tangisan tersebut merupakan puncak akumulasi dari rasa lelah, kecewa, atau tekanan yang menumpuk sepanjang hari.
Melalui upaya memahami sudut pandang sang anak, para orang tua dipastikan akan jauh lebih mudah dalam menyajikan respons yang menenangkan ketimbang melayangkan penilaian yang menghakimi.
Suara tangisan anak tidak jarang ikut memantik stres, rasa malu, hingga rasa frustrasi tersendiri bagi orang tua. Melansir Natural Parent, banyak dari mereka yang didera kecemasan hingga hilang percaya diri saat gagal mendiamkan anak.
Munculnya pergolakan perasaan tersebut sejatinya merupakan hal yang sangat manusiawi dialami oleh setiap orang tua. Namun, jika dihadapi dengan reaksi membentak atau memarahi, keadaan justru akan menjadi kian runyam.
Oleh karena itu, ketika situasi tersebut terjadi, cobalah untuk mengambil jeda sejenak, mengontrol tarikan napas, baru kemudian memberikan respons kepada anak dengan pembawaan yang jauh lebih tenang.
Kalimat pembanding seperti 'Temanmu saja tidak menangis' atau 'Kakakmu dulu lebih berani' merupakan ucapan yang sebaiknya dihindari secara total oleh orang tua.
Setiap anak terlahir dengan kapasitas mengelola emosi yang berbeda-beda, yang mana hal itu sangat dipengaruhi oleh faktor usia, latar belakang pengalaman, serta bawaan temperamen masing-masing.
Pola membanding-bandingkan ini justru memicu anak merasa bahwa luapan perasaannya tidak dihargai dan ditolak. Alih-alih belajar mengendalikan diri, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang pemalu atau enggan terbuka kelak.
Pada muaranya, esensi kekeliruan orang tua saat menghadapi anak menangis bukan cuma berkutat pada ucapan atau tindakan fisik semata, melainkan juga berakar dari cara pandang terhadap tangisan itu sendiri.
Ketika orang tua sukses menginternalisasi pemahaman bahwa menangis merupakan fase normal dari perkembangan psikologis, mereka akan lebih mudah dalam mengulurkan bentuk dukungan yang tepat.
Lewat pola tersebut, anak tidak sekadar memperoleh rasa aman yang utuh, melainkan juga dibimbing untuk mengenali, menerima, serta mengelola dinamika emosinya secara sehat hingga tumbuh dewasa kelak.