JAKARTA - Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor.
Salah satunya ditunjukkan oleh Perum Bulog yang menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk meningkatkan pengelolaan stok beras pemerintah. Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada ketersediaan, tetapi juga pada kualitas dan efisiensi distribusi pangan di Indonesia.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari langkah strategis dalam menghadapi tantangan pengelolaan cadangan beras pemerintah (CBP), termasuk risiko penurunan mutu akibat hama seperti kutu serta keterbatasan teknologi dalam penyimpanan.
Kolaborasi Strategis untuk Transformasi Pangan
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan BRIN guna memperkuat transformasi BUMN pangan itu dalam pengelolaan rantai pasok pangan berbasis teknologi.
“Melalui sinergi dengan BRIN, Bulog tidak hanya memperkuat peran dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan, tetapi juga mendorong pemanfaatan inovasi teknologi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan logistik pangan secara menyeluruh,” kata Rizal.
Kerja sama ini mencerminkan perubahan pendekatan dalam pengelolaan pangan nasional, dari yang sebelumnya lebih konvensional menuju sistem yang lebih modern dan berbasis inovasi.
Penguatan Kerja Sama Melalui Adendum Kesepahaman
Ia mengatakan pihaknya bersama BRIN telah menandatangani Adendum atas Nota Kesepahaman tentang Riset dan Pemanfaatan Hasil Riset terkait Rantai Pasok Pangan dan Pertanian. Penandatangan dilakukan dirinya bersama Kepala BRIN, Arif Satria, di Jakarta.
"Penandatanganan dilakukan sebagai penguatan kerja sama strategis yang telah terjalin sejak 2024," ujarnya.
Melalui adendum ini, kedua pihak sepakat untuk memperluas ruang lingkup kolaborasi, tidak hanya pada riset, tetapi juga pada implementasi hasil riset dalam sistem pangan nasional.
Langkah ini menjadi penting untuk memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan dapat langsung memberikan manfaat nyata bagi pengelolaan pangan.
Pengembangan Teknologi dan Modernisasi Sistem Pangan
Melalui adendum ini, kata Rizal, kedua pihak memperluas ruang lingkup kerja sama yang mencakup pengembangan smart farming berbasis teknologi terkini termasuk optimalisasi infrastruktur pengolahan pangan.
Selain itu, modernisasi pergudangan, diversifikasi pangan, diseminasi produk bersama, komunikasi publik, hingga pengembangan jaringan pangan.
Lebih lanjut Rizal mengatakan kerja sama juga diperkuat dengan penambahan fokus pada pemanfaatan teknologi pengawetan makanan serta riset dan inovasi teknologi radiasi untuk pengawetan pangan, sebagai langkah konkret dalam meningkatkan kualitas, daya simpan, dan efisiensi distribusi pangan nasional.
"Dengan penandatanganan adendum ini, Perum Bulog berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan nasional yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan," imbuh Rizal.
Pendekatan berbasis teknologi ini diharapkan mampu menjawab berbagai tantangan dalam pengelolaan stok pangan, termasuk menjaga kualitas beras dalam jangka waktu yang lebih lama.
Dorong Hilirisasi Riset untuk Sistem Pangan Modern
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan kolaborasi itu menjadi bagian penting dalam mendorong hilirisasi riset agar dapat langsung dimanfaatkan oleh sektor strategis.
Menurut Arif, kolaborasi antara BRIN dan Perum Bulog merupakan langkah konkret untuk memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium.
"Tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dalam mendukung sistem pangan nasional yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan,” kata Arif.
Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan sistem pangan nasional tidak hanya kuat dari sisi ketersediaan, tetapi juga unggul dalam kualitas, efisiensi, serta keberlanjutan. Kolaborasi antara lembaga riset dan BUMN pangan ini menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pangan yang lebih tangguh di masa depan.