JAKARTA - Pergerakan saham perbankan nasional kembali menjadi perhatian pelaku pasar.
Di tengah volatilitas yang masih tinggi, saham PT Bank Central Asia Tbk menunjukkan kemampuan bertahan yang cukup solid. Kondisi ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap emiten berfundamental kuat.
Harga saham BBCA berhasil berbalik arah setelah sempat tertekan oleh sentimen global. Tekanan tersebut dipicu oleh isu kebijakan indeks dan kekhawatiran investor asing. Namun, respons pasar terhadap BBCA menunjukkan daya tahan yang berbeda.
Pada akhir perdagangan, saham BBCA ditutup menguat. Penguatan ini terjadi di saat mayoritas saham berkapitalisasi besar masih bergerak fluktuatif. Performa tersebut menjadikan BBCA sebagai salah satu saham yang paling disorot.
Rebound Kuat dari Titik Terendah
BBCA mengakhiri perdagangan dengan penguatan 2,49% ke level Rp7.200 per saham. Sepanjang perdagangan, saham ini sempat menyentuh level terendah Rp6.375. Sementara itu, harga tertinggi intraday tercatat di level Rp7.275 per saham.
Pergerakan tersebut mencerminkan rebound signifikan dari titik terendah menuju harga penutupan. Jika dihitung, kenaikan dari posisi terendah ke penutupan mencapai sekitar 12,9%. Angka ini menunjukkan adanya aksi beli yang agresif.
Aksi beli tersebut muncul setelah tekanan jual mulai mereda. Investor terlihat memanfaatkan koreksi harga sebagai momentum akumulasi. Hal ini memperkuat sinyal bahwa minat terhadap BBCA masih terjaga.
Likuiditas Tinggi Topang Pergerakan Harga
Dari sisi likuiditas, saham BBCA mencatatkan aktivitas transaksi yang sangat besar. Total nilai transaksi mencapai Rp9,8 triliun dalam satu hari perdagangan. Besarnya nilai tersebut menegaskan tingginya perhatian investor.
BBCA menjadi salah satu saham paling aktif diperdagangkan di bursa. Aktivitas transaksi yang tinggi mencerminkan kepercayaan pasar terhadap likuiditas saham ini. Kondisi tersebut juga mendukung stabilitas pergerakan harga.
Penguatan BBCA turut membantu menahan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan. Dengan bobot yang besar di indeks, pergerakan BBCA memberi dampak signifikan. Apresiasi harga saham ini mendorong perbaikan IHSG.
Sentimen Pasar dan Respons Kebijakan
IHSG sempat mengalami koreksi hingga 10% akibat tekanan sentimen. Tekanan tersebut dipicu oleh sikap lembaga indeks global yang mempertanyakan transparansi free float. Kondisi ini memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham.
Namun, sentimen pasar mulai membaik setelah adanya respons regulator. Otoritas Jasa Keuangan menyampaikan rencana penetapan kebijakan free float minimum sebesar 15%. OJK juga akan berkoordinasi dengan bursa dan SRO lainnya.
Selain itu, komunikasi intensif dengan lembaga indeks global turut dilakukan. Langkah tersebut disambut positif oleh pelaku pasar. Perbaikan sentimen ini membantu meredam tekanan lanjutan di pasar saham.
Buyback dan Fundamental Perkuat Prospek
Selain sentimen eksternal, BBCA juga mendapatkan dorongan dari rencana aksi korporasi. BCA berencana melakukan pembelian kembali saham dengan dana mencapai Rp5 triliun. Langkah ini dipandang sebagai sinyal kepercayaan manajemen.
Manajemen BCA memastikan buyback tidak akan mengganggu porsi saham publik. Kepemilikan saham publik tetap dijaga sesuai ketentuan yang berlaku. Buyback juga dipastikan tidak berdampak material terhadap operasional bisnis.
Jumlah saham BBCA yang dimiliki publik mencapai 52,17 miliar saham. Angka tersebut setara dengan 42,3% dari total saham beredar. Kondisi ini menunjukkan BBCA telah memenuhi ketentuan free float.
Dari sisi kinerja, BBCA mencatat laba bersih sebesar Rp57,5 triliun sepanjang tahun 2025. Laba tersebut tumbuh hampir 5% secara tahunan. Pertumbuhan ini dicapai di tengah tantangan industri perbankan.
Riset BRI Danareksa Sekuritas menilai kinerja BBCA masih solid. “Laba bersih BBCA tercatat sedikit lebih tinggi dari perkiraan kami dan masih sejalan dengan konsensus pasar.
Di tengah arus keluar dana asing, potensi penurunan valuasi BBCA relatif terbatas karena secara price to book value saham ini telah turun ke dua standar deviasi di bawah rata-rata valuasi historisnya,” tulis Victor Stefano.
Pandangan positif juga datang dari IndoPremier Sekuritas. Perusahaan tersebut menilai valuasi BBCA berada di level menarik secara historis. Perbaikan kualitas aset menjadi faktor pendukung utama.
“Valuasi BBCA saat ini berada di bawah rata-rata 10 tahun dan menjadi menarik di tengah perbaikan kualitas aset, tercermin dari Loan at Risk yang turun menjadi 4,8% serta rasio NPL yang terjaga di level 1,7% pada kuartal IV-2025,” tulis IndoPremier Sekuritas.
Kedua broker sama-sama merekomendasikan beli untuk saham BBCA. BRI Danareksa menetapkan target harga Rp11.400 per saham. IndoPremier Sekuritas memasang target harga Rp10.600 per saham.
Dengan kombinasi rebound harga, dukungan buyback, serta fundamental yang kuat, BBCA dinilai memiliki ketahanan tinggi. Pergerakan ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas perbankan nasional. Saham BBCA tetap menjadi pilihan di tengah volatilitas pasar.