Bisnis

Peluang Bisnis Besar Industri Furnitur Indonesia Menuju Pasar Global

Peluang Bisnis Besar Industri Furnitur Indonesia Menuju Pasar Global
Peluang Bisnis Besar Industri Furnitur Indonesia Menuju Pasar Global

JAKARTA - Industri furnitur Indonesia terus menunjukkan potensi besar sebagai penggerak ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global. 

Peluang pertumbuhan masih terbuka lebar, baik dari sisi permintaan domestik maupun ekspor ke berbagai negara. Kondisi ini menempatkan sektor furnitur sebagai salah satu industri strategis yang layak terus dikembangkan secara berkelanjutan.

Kontribusi ekspor mebel nasional tercatat sebagai subsektor kerajinan terbesar kedua dengan porsi sekitar 12,2 persen pada 2025. Namun, pangsa Indonesia di pasar furnitur dunia masih berada di bawah satu persen dari total nilai perdagangan global. Fakta ini mencerminkan besarnya ruang pertumbuhan yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri.

Nilai pasar furnitur global yang mencapai ratusan miliar dolar Amerika Serikat per tahun membuka peluang signifikan bagi Indonesia. Ketersediaan sumber daya alam, tenaga kerja, dan kemampuan produksi menjadi modal penting untuk meningkatkan daya saing. 

Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi keunggulan nyata di pasar internasional.

Tantangan Konektivitas Rantai Nilai Industri

Tantangan utama industri furnitur nasional bukan terletak pada kapasitas produksi semata. Persoalan utama justru berada pada konektivitas rantai nilai yang belum terintegrasi secara optimal dari hulu hingga hilir. Mulai dari bahan baku, teknologi manufaktur, hingga akses pasar global masih membutuhkan penguatan menyeluruh.

Akses ke pasar Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur sebenarnya telah terbentuk. Namun, penguatan standardisasi, efisiensi produksi, dan integrasi lintas sektor masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Hal ini penting agar pelaku industri, termasuk UMKM, dapat terhubung lebih langsung dengan jaringan pasar internasional.

Tanpa konektivitas yang kuat, potensi ekspor sulit berkembang secara berkelanjutan. Kolaborasi antara pelaku usaha, teknologi, dan logistik menjadi kunci peningkatan nilai tambah industri. Dengan pendekatan yang terintegrasi, industri furnitur nasional dapat memperluas perannya dalam rantai pasok global.

Dukungan Pertumbuhan Properti Domestik

Di pasar dalam negeri, prospek industri furnitur mendapat dorongan signifikan dari pertumbuhan sektor properti. Sepanjang kuartal pertama 2025, penjualan rumah berukuran kecil meningkat tajam secara kuartalan. Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya permintaan furnitur dan interior hunian.

Pertumbuhan sektor properti juga mulai bergeser ke kota-kota sekunder. Pekanbaru dan Pontianak mencatat pertumbuhan masing-masing sebesar 2,12 persen dan 2,07 persen. Tren ini membuka peluang pasar baru bagi produsen furnitur di luar kota metropolitan utama.

Insentif pajak pertambahan nilai untuk rumah serta kemudahan kepemilikan properti bagi pembeli asing turut memperkuat transaksi hunian. Hal tersebut menegaskan peran industri furnitur sebagai sektor dengan efek berganda bagi ekonomi. Permintaan domestik yang kuat menjadi fondasi penting bagi ekspansi industri secara nasional.

Integrasi Pameran Dorong Akses Pasar Global

Untuk memperkuat akses pasar global, integrasi pameran industri menjadi langkah strategis. Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengumumkan penggabungan empat pameran dagang utama dalam satu platform industri terpadu. Inisiatif ini mencakup seluruh rantai industri dari hulu hingga hilir.

Mulai 2026, pameran tersebut akan digelar secara co-located dengan nama Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect. Platform ini menargetkan ratusan exhibitor dan ribuan pengunjung dari berbagai negara. Partisipasi internasional diharapkan mampu memperluas jejaring bisnis dan investasi industri nasional.

“Konsep co-location dan penyelarasan lintas sektor ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan platform industri di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik,” ujar Mathias Kupper. Ia menambahkan bahwa penyatuan material, manufaktur, dan furnitur meningkatkan efisiensi industri. Langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur regional.

Kolaborasi Industri dan Penguatan Ekosistem

Ketua ASMINDO Dedy Rochimat menilai integrasi platform tersebut selaras dengan kebutuhan industri furnitur saat ini. “Penyelarasan ini menyatukan berbagai platform industri utama sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini,” ujarnya. Menurutnya, inisiatif ini mendukung pengembangan bisnis dari hulu ke hilir.

Penguatan ekosistem industri juga ditegaskan oleh Wakeni sebagai penyelenggara IFMAC–WOODMAC. Project Director Wakeni Cloudinia J. Dieter menyampaikan bahwa IFMAC–WOODMAC bukan sekadar pameran. “IFMAC–WOODMAC bukan sekadar sebuah pameran, tetapi wadah strategis bagi industri,” ujarnya.

Memasuki penyelenggaraan ke-13, IFMAC–WOODMAC terus membantu industri meningkatkan efisiensi dan daya saing. “Fokus IFMAC–WOODMAC sangat jelas, yaitu membantu industri bekerja lebih efisien dan kompetitif,” kata Cloudinia. 

Ke depan, kolaborasi hexahelix diharapkan membangun ekosistem furnitur Indonesia yang adaptif dan berkelanjutan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index