Batu Bara

Ekspor Batu Bara Indonesia Naik, Tren Produksi Diwaspadai Menjelang 2026

Ekspor Batu Bara Indonesia Naik, Tren Produksi Diwaspadai Menjelang 2026
Ekspor Batu Bara Indonesia Naik, Tren Produksi Diwaspadai Menjelang 2026

JAKARTA - Dalam beberapa bulan terakhir, dinamika industri batu bara Indonesia menunjukkan perpaduan antara capaian yang impresif dan kewaspadaan terhadap kondisi pasar ke depan.

Meskipun ekspor dan produksi batu bara hingga Oktober 2025 mencatatkan capaian signifikan, pemerintah dan pelaku industri kini menghadapi tantangan baru yang berkaitan dengan permintaan global, evaluasi kuota produksi, hingga rencana penyesuaian kebijakan tahun 2026. 

Kondisi ini membuat pergerakan industri tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi semata, tetapi juga strategi pengelolaan agar tetap adaptif menghadapi pasar yang berubah cepat.

Di tengah situasi tersebut, data terbaru dari Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) memberi gambaran utuh mengenai capaian ekspor, produksi, serta arah kebijakan yang sedang dipersiapkan pemerintah. Dengan kebutuhan global yang cenderung menurun dan pemenuhan pasar domestik yang masih harus dikejar, industri batu bara Indonesia memasuki periode yang menuntut kehati-hatian.

Perkembangan Ekspor Batu Bara Indonesia

Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengungkapkan bahwa ekspor batu bara Indonesia per Oktober 2025 telah mencapai 418 juta ton. Angka ini mengambil porsi 83,6% dari target ekspor sepanjang 2025 yang ditetapkan sebesar 500 juta ton.

Sekretaris Jenderal APBI, Haryanto Damanik, menjelaskan bahwa sebagian besar ekspor tersebut masih didominasi dua pasar utama, yaitu China dan India. Permintaan dari kedua negara itu selama beberapa tahun terakhir memang menjadi tulang punggung ekspor batu bara nasional.

Namun, menurut Haryanto, permintaan dari kawasan Asia Tenggara atau ASEAN juga menunjukkan peningkatan. “Permintaan batu bara ini diperkirakan dari ASEAN meningkat,” ujarnya saat Editor Gathering di Jakarta. Meski bukan pasar terbesar, tren peningkatan permintaan dari negara-negara ASEAN memberi sinyal bahwa pasar regional tetap memiliki potensi untuk mendukung stabilitas ekspor Indonesia.

Kinerja Produksi Batu Bara Hingga Akhir Oktober

Selain ekspor, APBI juga melaporkan bahwa produksi batu bara Indonesia hingga Oktober 2025 telah mencapai 661,18 juta ton. Angka tersebut setara dengan 89,38% dari target produksi tahun ini sebesar 739,6 juta ton.

“Target sampai akhir tahun kurang lebih 740 juta ton,” kata Haryanto.

Jika dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, target produksi 2025 memang terpaut cukup signifikan. Realisasi produksi tahun 2024 mencapai 836 juta ton, jauh di atas proyeksi tahun ini. Penurunan target tersebut menunjukkan adanya pendekatan lebih konservatif dalam menentukan kapasitas produksi, sejalan dengan tren melemahnya permintaan global dan kondisi pasar yang kurang stabil.

Evaluasi Pemerintah terhadap Rencana Produksi Tahun Depan

Di tengah dinamika tersebut, pemerintah kini sedang mengkaji rencana pengurangan kuota produksi batu bara untuk tahun 2026. Evaluasi ini dilakukan sebagai respons terhadap melemahnya produksi tahun ini serta perkembangan pasar batu bara dunia.

“Nanti kita mau lihat korelasi dengan rencana pemerintah untuk mengurangi produksi di 2026,” kata Haryanto.

Selain itu, APBI juga menyampaikan bahwa pemenuhan pasokan untuk dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) telah mencapai 180,98 juta ton. Angka ini baru mencapai 75,51% dari target DMO yang ditetapkan sebesar 239,6 juta ton. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ekspor berjalan baik, pemenuhan kebutuhan domestik masih perlu dioptimalkan.

Penjelasan Pemerintah Mengenai Pengurangan Produksi

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah akan memangkas target produksi batu bara tahun depan sambil membuka peluang untuk peningkatan porsi DMO. Rencana tersebut saat ini sudah memasuki tahap evaluasi seiring tenggat perusahaan tambang untuk menyampaikan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tahun 2026.

Bahlil menjelaskan bahwa proyeksi RKAB tiga tahunan sebelumnya (2024–2026) memperkirakan produksi mencapai 900 juta ton per tahun. Angka tersebut dinilai tidak lagi relevan dengan kondisi permintaan batu bara global yang cenderung melemah.

Sementara itu, kebutuhan batu bara nasional untuk pembangkit listrik milik PT PLN (Persero) berada pada kisaran 140–160 juta ton. Adapun kebutuhan batu bara dunia berada di sekitar 1,3 miliar ton, dan Indonesia berpotensi memasok hingga 600 juta ton.

“Kita tergantung nanti hasil rekap RKAB. Karena rekap RKAB itu akan menentukan berapa DMO yang akan kita kasih. Minimal 25%, sudah, titik,” tegas Bahlil.

Pemerintah berharap pemangkasan produksi tersebut dapat membantu menjaga harga batu bara di pasar dunia. Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa kementerian belum menetapkan besaran DMO yang akan diberlakukan mulai tahun depan. Ketentuan tersebut baru akan dipastikan setelah RKAB 2026 selesai direkapitulasi.

Prospek Industri Batu Bara Menatap 2026

Dengan capaian ekspor dan produksi yang masih relatif tinggi hingga Oktober 2025, Indonesia masih berada dalam posisi strategis sebagai pemasok batu bara global. Namun, tantangan ke depan bersumber dari variabel yang lebih kompleks, mulai dari perlambatan permintaan global, kelebihan pasokan, hingga penyesuaian kebijakan dalam negeri.

Industri harus mulai bersiap menghadapi era produksi yang lebih terkendali, sekaligus memastikan pemenuhan DMO tetap terpenuhi. Dengan langkah pemerintah yang lebih berhati-hati dan pertimbangan pasar yang matang, arah kebijakan batu bara Indonesia pada 2026 diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan peluang ekspor.

Kondisi ini menjadikan tahun 2026 sebagai momentum penting bagi industri batu bara Indonesia dalam mempertahankan daya saing sekaligus memastikan keberlanjutan sektor energi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index