JAKARTA - Pertumbuhan kinerja PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten yang berada di bawah naungan pengusaha nasional Prajogo Pangestu, kembali menjadi sorotan setelah perusahaan merilis laporan keuangan per September 2025.
Konsistensi dalam menjaga pertumbuhan pendapatan serta penguatan di beberapa segmen bisnis utama menunjukkan bahwa Petrosea mampu mempertahankan daya saingnya di tengah tantangan industri energi dan konstruksi yang terus berubah.
Dengan pencapaian yang solid di kuartal III-2025, perusahaan menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain terdepan dalam jasa pertambangan, konstruksi, dan rekayasa di Indonesia.
Dalam laporan yang dipublikasikan, manajemen Petrosea menyampaikan bahwa pendapatan hingga kuartal III-2025 mencapai US$603,84 juta atau sekitar Rp10,01 triliun. Angka tersebut tumbuh 18,42% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, ketika pendapatan berada di level US$509,91 juta.
Lonjakan pendapatan ini mencerminkan kuatnya permintaan pada sektor layanan yang digarap PTRO, serta efektivitas strategi perusahaan dalam mengoptimalkan portofolio bisnisnya. Beberapa segmen kunci mencatatkan pertumbuhan signifikan yang ikut menopang total pendapatan secara keseluruhan.
Penguatan Pendapatan dari Berbagai Segmen Usaha
Segmen konstruksi dan rekayasa masih menjadi salah satu penopang utama pendapatan Petrosea, dengan kontribusi sebesar US$271,83 juta hingga September 2025. Nilai ini meningkat dari US$226,57 juta yang dibukukan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menggambarkan peningkatan aktivitas proyek dan keberhasilan perusahaan dalam memperoleh pekerjaan konstruksi di sektor energi dan infrastruktur.
Pada saat yang sama, segmen penambangan turut memberikan kontribusi besar. Pendapatan dari bidang ini naik menjadi US$267,16 juta, lebih tinggi dari US$208,87 juta pada kuartal III-2024.
Segmen ini terus menjadi tulang punggung bisnis Petrosea, terutama di tengah kebutuhan layanan operasional dan manajemen pertambangan yang terus meningkat. Pengembangan kontrak baru dan efektivitas operasional turut menjadi faktor yang memengaruhi peningkatan performa segmen ini.
Selain kedua segmen tersebut, pendapatan Petrosea juga datang dari layanan jasa lainnya sebesar US$23,2 juta, sedikit turun dibanding US$27,41 juta pada tahun lalu. Sementara itu, pada lini EPCI minyak dan gas lepas pantai, perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$5,86 juta.
Pada segmen lain-lain, kontribusi tercatat sebesar US$1,89 juta, naik tipis dibandingkan US$1,78 juta pada periode sebelumnya. Adapun penjualan batu bara memberikan sumbangan sebesar US$33,80 juta, menjadi salah satu komponen tambahan yang memperkuat pendapatan total perusahaan.
Kenaikan Beban Usaha dan Dampaknya terhadap Margin
Selaras dengan pertumbuhan pendapatan, beban usaha Petrosea juga mengalami peningkatan. Perusahaan mencatat beban operasional sebesar US$530,08 juta hingga kuartal III-2025, lebih tinggi dari posisi US$438,03 juta pada periode yang sama tahun 2024. Kenaikan beban ini terjadi seiring bertambahnya volume proyek, intensitas operasional, serta biaya terkait ekspansi dan pengembangan layanan.
Meski beban usaha meningkat cukup signifikan, Petrosea tetap mampu mencatatkan pertumbuhan laba kotor. Pada periode ini, laba kotor mencapai US$73,75 juta atau sekitar Rp1,22 triliun. Angka tersebut naik 2,62% dari US$71,87 juta pada September 2024. Pertumbuhan laba yang terjadi meskipun beban meningkat menunjukkan bahwa efisiensi operasional perusahaan masih terjaga, dan margin kotor tetap dapat dipertahankan berkat optimalisasi pada berbagai lini usaha.
Lonjakan Laba Bersih dan Penguatan Kinerja Keuangan
Kinerja PTRO semakin menonjol dengan lompatan besar pada laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Hingga September 2025, laba bersih perusahaan tercatat sebesar US$6,93 juta atau Rp114,93 miliar. Nilai ini melambung 142,31% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang hanya membukukan laba US$2,86 juta. Pertumbuhan yang sangat signifikan tersebut menegaskan bahwa Petrosea berhasil memperkuat fondasi keuangan serta menekan berbagai biaya non-operasional yang sebelumnya membebani kinerja.
Selain mencatatkan lonjakan laba, perusahaan juga menjaga struktur keuangan yang solid. Total liabilitas Petrosea hingga kuartal III-2025 tercatat sebesar US$1,12 miliar. Dari jumlah tersebut, liabilitas jangka panjang menyumbang US$737,69 juta, sementara liabilitas jangka pendek berada di angka US$389,20 juta. Struktur liabilitas yang terkendali menjadi faktor penting dalam menjaga likuiditas dan fleksibilitas perusahaan dalam menjalankan ekspansi strategis.
Sementara itu, total ekuitas PTRO mencapai US$270,10 juta hingga September 2025. Dengan total aset sebesar US$1,39 miliar, perusahaan memiliki kapasitas finansial yang cukup kuat untuk terus memperluas lini bisnis dan mengembangkan proyek-proyek strategis ke depan. Rasio aset yang besar mencerminkan skala perusahaan yang terus berkembang dan siap bersaing di industri yang semakin kompetitif.
Optimisme Petrosea dalam Menatap Sisa Tahun
Dengan pencapaian hingga September 2025 yang menunjukkan perbaikan di hampir seluruh aspek keuangan, PTRO memulai sisa tahun dengan penuh percaya diri. Lonjakan pendapatan, perbaikan laba, serta penguatan ekuitas menjadi indikator kuat bahwa strategi diversifikasi dan efisiensi operasional yang diterapkan manajemen berada di jalur yang tepat. Perusahaan menunjukkan kemampuan untuk menavigasi kondisi industri yang dinamis, sekaligus menjaga stabilitas finansial.
Ke depan, Petrosea diperkirakan akan melanjutkan momentum positif ini dengan memanfaatkan portofolio bisnis yang semakin solid. Dengan permintaan yang terus meningkat di sektor konstruksi, rekayasa, dan jasa pertambangan, PTRO memiliki peluang besar untuk mempertahankan tren pertumbuhan sekaligus memperkuat posisinya dalam jangka panjang.