Topangan Hasil Investasi Jaga Laba Taspen Capai Rp1,04 Triliun

Rabu, 08 Juli 2026 | 01:59:31 WIB
Ilustrasi Petugas Taspen melayani salah satu penerima manfaat.

JAKARTA — PT Taspen (Persero) berhasil membukukan laba bersih untuk tahun buku 2025 senilai Rp1,04 triliun. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 16,1 persen secara tahunan (year on year/YoY). Meskipun mengalami penyusutan, pihak perseroan menilai perolehan tersebut masih tergolong besar di tengah situasi makro ekonomi yang penuh rintangan.

Direktur Utama Taspen, Rony Hanityo Aprianto, mengungkapkan bahwa pendapatan dari sektor premi dan iuran masih menjadi tumpuan utama perseroan. Kendati demikian, total realisasi pos ini sepanjang 2025 merosot hingga 11 persen YoY menjadi Rp7,73 triliun. Faktor inilah yang membuat laba bersih Taspen beralih ditopang oleh kinerja investasi yang tumbuh positif.

“Pada 2024, hasil investasi adalah Rp9,01 triliun, maka pada 2025 hasil investasi Taspen itu adalah Rp9,87 triliun dan juga yang menjadi sumber lainnya itu adalah pendapatan lain-lain yang banyak disumbangkan oleh fee pengelolaan investasi di akumulasi iuran pensiun,” ujarnya dalam RDP dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2026).

Rony menjelaskan lebih lanjut bahwa Taspen mengelola dua portofolio besar, yaitu instrumen Tabungan Hari Tua (THT) serta Akumulasi Iuran Pensiun (AIP). Imbal hasil bruto dari pengelolaan investasi pada sektor AIP tercatat menyentuh angka 6,7 persen atau berkisar 5 persen secara neto, yang ikut menyumbang pendapatan perusahaan.

Dari sisi pos pengeluaran, total beban klaim Taspen sepanjang tahun 2025 mencapai Rp14,9 triliun, atau menyusut tipis sekitar 2 persen YoY dari Rp15,21 triliun. Selain itu, terdapat beban LMPMD dan cadangan teknis Rp64 miliar, pengeluaran usaha bersih Rp1,19 triliun, nilai penurunan portofolio (impairment) Rp1,82 triliun, serta kewajiban pajak Rp443 miliar.

“Kalau kita melihat beban klaim itu adalah Rp14,9 triliun. Kalau kita melihat kasat mata saja, iuran Rp7,7 triliun, klaim Rp14,9 triliun, itu kan artinya enggak matching. Jadi, yang menambal adalah hasil investasi, makanya sampai dengan saat ini Taspen masih bisa membukukan keuntungan,” jelas Rony.

Ia juga memaparkan bahwa alokasi dana impairment sengaja dibentuk dalam jumlah besar sebagai komitmen penerapan prinsip kehati-hatian pembukuan keuangan. Pos impairment ini merupakan langkah pencadangan operasional demi memitigasi potensi koreksi nilai pada aset investasi perseroan.

Saat ini, portofolio penempatan dana Taspen sebagian berada pada surat utang obligasi korporasi milik emiten BUMN Karya yang sedang diterpa dinamika usaha. Walau begitu, biaya pencadangan ini berpeluang dipulihkan kembali jika surat utang terkait sudah memasuki masa jatuh tempo dan kewajiban bayarnya terselesaikan.

“Jadi yang tadinya beban, bisa balik ke atas, jadi ke pendapatan, seperti itu. Kalau misalnya ada perbaikan rating, itu juga bisa kita reverse. Jadi, impairment ini tidak selamanya berdiri di sini sebagai beban. Ini adalah salah satu cara Taspen untuk paling enggak konservatif dalam melakukan pembukuan kami,” bebernya.

Rony menggarisbawahi bahwa perolehan laba bersih Taspen berpotensi menyentuh angka kisaran Rp2 triliun jika perusahaan tidak memasukkan perhitungan impairment. Akan tetapi, manajemen memprioritaskan pencatatan pencadangan tersebut demi menjaga kehati-hatian laporan keuangan perusahaan.

“Kami milih untuk lebih konservatif saja, deh, mendingan kita cadangkan sekarang. Kalau kondisi membaik, bisa kami reverse, balik lagi ke kami di tahun depan atau tahun ini,” pungkasnya.

Sebagai informasi tambahan, jajaran manajemen Taspen mencatatkan akumulasi berkas pengajuan klaim sepanjang tahun 2025 mencapai total 674.644 pengajuan. Dari total laporan itu, sebanyak 560.719 pemohon atau 83,1 persen memprosesnya secara daring, sedangkan sisanya 113.925 pemohon atau 16,9 persen mengurusnya secara tatap muka.

Sementara itu, populasi nasabah pensiunan yang terdata di bawah pengelolaan Taspen pada tahun 2025 telah menyentuh angka 3.246.739 jiwa. Tercatat porsi sebesar 78,92 persen atau 2.562.388 nasabah merampungkan proses autentikasi data lewat sistem daring, lalu sebesar 21,08 persen atau 684.351 nasabah melakukan pemutakhiran data secara manual.

Terkini