JAKARTA - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mengawali tahun 2026 dengan menorehkan grafik perbaikan performa kinerja keuangan yang terhitung sangat signifikan.
Bank digital tersebut dilaporkan telah berhasil menyentuh titik balik operasi bisnis yang ditandai oleh lonjakan perolehan laba, pertumbuhan kredit agresif, serta membaiknya kualitas aset di tengah ekspansi.
Berdasarkan laporan riset dari SimInvest Research, pada kuartal I 2026, Super Bank sukses mengantongi laba bersih senilai Rp78 miliar bagi kas korporasi mereka.
Raihan ini meroket tajam bila disandingkan dengan perolehan laba periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya menyentuh angka sebesar Rp251 juta.
Catatan positif ini juga merepresentasikan pertumbuhan hampir dua kali lipat jika dikomparasikan dengan torehan laba bersih pada kuartal IV 2025 yang lalu sebesar Rp40 milar.
Pertumbuhan masif tersebut ditopang kuat oleh kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 91 persen secara tahunan hingga menyentuh nominal Rp504 miliar.
Analis SimInvest Ivan Purnama Putera menyebut momentum pertumbuhan tersebut digerakkan secara dominan oleh ekspansi penyaluran kredit langsung lewat produk Pinjaman Atur Sendiri (PAS).
Melalui produk inovatif tersebut, skema kredit langsung ini bertransformasi menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan bisnis dari emiten perbankan digital berkode saham SUPA tersebut.
Portofolio penyaluran kredit dari Super Bank juga tercatat merangkak naik sebesar 50,3 persen secara tahunan menjadi Rp11,43 triliun pada fase akhir Maret 2026.
Produk PAS yang baru saja diperkenalkan kepada masyarakat pada akhir 2024 kini sanggup memberikan kontribusi andil sekitar 12 persen dari total keseluruhan kredit.
Volume penyaluran produk pinjaman digital ini juga melonjak hampir empat kali lipat menjadi berada di kisaran angka Rp1,5 triliun untuk hitungan per kuartal.
Sementara itu, untuk basis data nasabah penerima fasilitas pinjaman tercatat ikut bertambah drastis menjadi lebih dari 424.000 pengguna dari posisi sebelumnya yang berkisar 100.000 investor.
Akselerasi ekspansi bisnis ini kian kokoh seiring berjalannya proses integrasi layanan PAS ke dalam ekosistem digital milik platform Grab serta OVO sejak Oktober 2025.
Pihak manajemen internal korporasi kini memasang target total penyaluran kredit sepanjang tahun ini mampu menyentuh level Rp14 triliun hingga Rp15 triliun.
Bahkan angka itu diproyeksikan berpeluang besar untuk menembus rentang Rp16 triliun sampai Rp17 triliun apabila konsistensi momentum pertumbuhan tersebut dapat dijaga dengan baik.
Dari aspek tingkat kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bank terpantau membaik ke level 2,0 persen pada kuartal I 2026.
Perbaikan kualitas ini berhasil diraih meskipun beban biaya pencadangan atau cost of credit (CoC) mengalami kenaikan ke posisi 4,9 persen.
Langkah ini selaras dengan karakteristik bisnis perbankan digital yang fokus mengalirkan pinjaman bernilai kecil dengan jangka waktu tenor yang relatif pendek.
Mengenai aspek penghimpunan dana, raihan dana pihak ketiga (DPK) melesat 103,9 persen secara tahunan menjadi Rp14,44 triliun yang dipicu pertumbuhan produk deposito.
Meskipun begitu, pihak SimInvest memproyeksikan biaya dana atau cost of fund diprediksi masih bertahan pada kisaran angka 6 persen hingga 7 persen sepanjang tahun 2026.
Kondisi tersebut dinilai memiliki potensi untuk menekan perolehan margin bunga bersih pada fase semester II di tengah situasi pengetatan likuiditas industri perbankan.
Secara garis besar, fokus perusahaan untuk memperbesar porsi portofolio produk kredit PAS dinilai mampu menggandakan pertumbuhan laba bersih untuk kurun waktu dua tahun ke depan.