Penyebab dan Tips Mengatasi Lelah Mental Hadapi Rutinitas Harian

Senin, 06 Juli 2026 | 06:08:32 WIB
Ilustrasi kewalahan dengan tugas sehari-hari.

JAKARTA - Rasa lelah berlebihan sering kali melanda banyak individu ketika dihadapkan pada tanggung jawab yang terkesan sepele. Aktivitas harian seperti membalas pesan elektronik, mencuci perabot dapur, melakukan panggilan telepon, hingga merapikan hunian terkadang terasa amat berat, meskipun semua itu adalah bagian dari rutinitas yang lumrah terjadi.

Kondisi psikologis tersebut dijelaskan oleh Dr. Sharadhi C selaku psikiater konsultan dari Aster CMI Hospital di Bangalore. Menurutnya, hambatan ini bukan mencerminkan sifat malas atau ketidakmampuan seseorang, melainkan indikasi bahwa beban pikiran tengah menumpuk akibat tekanan stres, rasa cemas, depresi, kelelahan kerja, kurang tidur, atau problem emosional lainnya.

"Ketika pikiran sudah membawa beban emosional yang berat, tugas rutin sekalipun dapat terasa jauh lebih besar daripada kenyataannya. Stres dapat memengaruhi konsentrasi, kemampuan mengambil keputusan, motivasi, dan tingkat energi," jelas Dr. Sharadhi, seperti dikutip Only My Health, Senin (6/7/2026).

Dampak dari problem ini membuat seseorang rentan menunda-nunda tanggung jawab, mengelak dari kewajiban, hingga berujung pada rasa tertekan yang mendalam lantaran tumpukan pekerjaan kian menggunung. Guna mengatasi kejenuhan aktivitas tersebut, Dr. Sharadhi membagikan sejumlah langkah solutif.

Strategi awal yang bisa diterapkan yaitu membagi target besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Perasaan tertekan biasanya muncul karena seseorang memandang suatu pekerjaan sebagai beban tunggal yang masif, padahal penyelesaiannya dapat dicicil secara bertahap.

Sebagai contoh, dibanding memikirkan beratnya membersihkan area rumah sekaligus dalam satu waktu, mulailah berfokus pada satu ruangan atau satu sudut lemari terlebih dahulu. Keberhasilan menuntaskan tahapan kecil ini secara psikologis akan mendongkrak semangat untuk menyelesaikan agenda berikutnya.

Langkah kedua yakni menyusun agenda harian secara simpel. Memiliki jadwal aktivitas yang teratur dan terencana efektif meminimalkan kekacauan di dalam pikiran. Lewat pola yang sederhana, kerja otak tidak akan terbebani untuk terus berpikir mengenai tindakan selanjutnya, sehingga pasokan energi mental dapat lebih efisien serta konsistensi harian mudah terbentuk.

Langkah ketiga berupa mencatat sekaligus mengurutkan skala prioritas pekerjaan. Membiarkan seluruh daftar tugas menumpuk di memori kepala hanya akan memicu stres psikologis. Oleh sebab itu, tuangkan poin-poin pekerjaan tersebut ke dalam catatan kecil lalu pilah mana yang paling mendesak untuk diselesaikan, agar fokus tidak terpecah.

Langkah keempat adalah menurunkan ekspektasi dan tidak menuntut kesempurnaan mutlak. Dr. Sharadhi menyarankan agar setiap orang membangun target yang rasional bagi dirinya sendiri. Tidak seluruh tanggung jawab harus tuntas secara sempurna dalam satu waktu, dan menyadari bahwa performa terbaik sudah cukup akan meringankan beban mental.

Langkah kelima menyangkut pemanfaatan waktu jeda untuk beristirahat. Mengambil rehat sejenak selama beberapa menit di tengah kesibukan sangat krusial demi mengembalikan kefokusan kerja. Di samping itu, olahraga teratur, asupan makanan bernutrisi, serta pemenuhan waktu tidur yang ideal memegang peranan vital dalam menjaga kebugaran mental.

Langkah keenam yaitu menanamkan sikap ramah terhadap diri sendiri. Mengalami fase kewalahan bukan indikator bahwa seseorang tidak kompeten atau tidak produktif. Menurut pandangan Dr. Sharadhi, kondisi tersebut merupakan alarm alami tubuh agar segera beristirahat atau memperbarui strategi manajemen stres, tanpa perlu menyalahkan diri sendiri.

Langkah ketujuh ialah bersedia menghubungi tenaga profesional jika kondisi stagnan. Apabila rasa jenuh dan kewalahan ini menetap selama berminggu-minggu, menghambat produktivitas harian, serta dibarengi rasa sedih atau putus asa yang ekstrem, disarankan untuk selekasnya berkonsultasi dengan ahli medis.

“Jika perasaan kewalahan terus berlangsung selama beberapa minggu, mengganggu fungsi sehari-hari, atau disertai gejala seperti kesedihan yang menetap, kecemasan, kehilangan minat, atau keputusasaan, disarankan untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental,” imbau Dr. Sharadhi.

Melalui pendekatan klinis yang tepat, individu yang bersangkutan dapat memperoleh penanganan serta pola manajemen stres yang efektif, sehingga rutinitas harian tidak lagi menjadi beban psikologis yang menakutkan.

Terkini