Gerakan Kembali Berkebun Mentan Amran Gandeng 150 Mahasiswa Papua

Kamis, 02 Juli 2026 | 22:39:32 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat berdialog dengan Asosiasi Mahasiswa Papua Indonesia di kediamannya di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman merangkul sebanyak 150 mahasiswa Papua untuk menjalankan Gerakan Kembali Berkebun. Agenda ini ditujukan sebagai langkah memajukan perekonomian warga setempat lewat pengembangan berbagai komoditas unggulan yang berbasis pada potensi lokal daerah.

"Gerakan ini diharapkan melahirkan generasi muda Papua yang mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian sekaligus menciptakan lapangan kerja di daerahnya," kata Mentan Amran saat berdialog dengan Asosiasi Mahasiswa Papua Indonesia di Jakarta, Kamis.

Agenda pertemuan yang diselenggarakan di rumah kediaman Mentan tersebut dihadiri oleh sejumlah perwakilan mahasiswa dari pelbagai wilayah. Cakupan daerahnya meliputi Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya, serta Papua Induk.

Di dalam forum dialog itu, para mahasiswa menjabarkan bermacam-macam potensi komoditas unggulan daerah mereka. Potensi tersebut mulai dari ubi jalar, sagu, pala, kakao, kopi, hingga sektor peternakan.

Merespons paparan tersebut, Mentan menegaskan bahwa proses pembangunan di sektor pertanian Papua wajib bersandar pada kekuatan komoditas lokal serta pemanfaatan lahan milik masyarakat.

“Kami harus membangun ekonomi dari desa. Mahasiswa seperti kalian adalah putra-putri terbaik Tanah Papua. Kalian yang bisa mengangkat ekonomi Papua karena memiliki pengetahuan, kecerdasan dan lahan yang harus dibangun,” ujarnya.

Sebagai wujud komitmen konkret, Mentan seketika menyalurkan bantuan kepada seorang mahasiswa Papua bernama Anton. Mahasiswa tersebut diketahui sudah mengelola lahan pertanian seluas 7 hektare sekaligus memimpin kelompok tani di kampung halamannya.

Melihat keseriusan tersebut, Mentan Amran mengambil keputusan untuk memberikan tambahan dukungan berupa pengembangan area lahan seluas 5 hektare.

“Yang penting dikerjakan dengan baik dan bisa menjadi contoh bagi anak-anak muda Papua lainnya,” ujarnya.

Menurut penilaian Mentan, keterlibatan aktif dari kalangan mahasiswa menjadi taktik penting dalam melahirkan poros pertumbuhan ekonomi baru di Papua. Pemerintah berharap generasi muda Papua tidak sebatas menjadi pencari kerja, melainkan sanggup menjadi pencipta lapangan kerja lewat pertanian modern berbasis keunggulan daerah.

Oleh karena itu, Mentan mengajak seluruh mahasiswa yang keluarga mereka masih mempunyai lahan untuk mulai mengelolanya semenjak masa perkuliahan berjalan.

“Saya ingin membangun Gerakan Pemuda Tani Papua. Kalau adik-adik mahasiswa punya lahan di kampung, mari kami tanam mulai sekarang. Begitu lulus kuliah, pendapatannya bisa lebih tinggi daripada pegawai,” ucap Amran.

Ia mencontohkan beberapa komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi seperti kopi dan pala. Menurutnya, pemanfaatan lahan milik keluarga sebagai modal awal dapat membantu mahasiswa dalam mendirikan usaha pertanian yang produktif sekaligus berkelanjutan.

“Kalau ada mahasiswa punya 2 hektare lahan dan ditanami kopi atau pala, begitu selesai kuliah hasilnya sudah bisa menjadi sumber pendapatan. Kami harus membangun ekonomi dari desa, membangun ekonomi dari tanah kami sendiri,” tegasnya.

Mentan pun memutuskan untuk mengucurkan tambahan bantuan pengembangan tanaman kopi seluas 100 hektare untuk kelompok petani muda di Papua Pegunungan yang sebelumnya telah menggarap lahan kopi seluas 48 hektare.

Di samping itu, pihak pemerintah menyediakan paket bantuan peralatan tani seperti linggis, sekop, parang, serta alat pendukung lainnya guna menyokong pengembangan pangan lokal, khususnya jenis ubi jalar di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.

“Untuk Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kami siapkan bantuan alat pertanian sesuai kebutuhan karena komoditas utamanya adalah ubi. Ini menjadi program khusus untuk memperkuat pengembangan pangan lokal,” kata Mentan Amran.

Salah seorang perwakilan mahasiswa dari Papua Barat Daya, Ronaldo Jakub Inesta, mengutarakan apresiasinya atas tindakan sigap Mentan Amran dalam menyerap aspirasi para mahasiswa.

Ia menilai forum diskusi seperti ini menjadi wadah krusial bagi segenap mahasiswa Papua demi menyalurkan secara langsung informasi potensi daerah kepada pihak pemerintah.

“Apa yang kami sampaikan langsung dicatat dan ditindaklanjuti. Kesempatan seperti ini sangat baik karena jarang sekali mahasiswa bisa berdialog langsung dengan seorang menteri," kata Ronaldo.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai, menilai bahwa gerakan tersebut bukan semata-mata soal urusan ekonomi, melainkan langkah menghidupkan kembali identitas kultural warga Papua yang punya kedekatan kuat dengan tanah adat dan komoditas lokal.

“Kami ingin menghidupkan kembali komoditas-komoditas lokal yang menjadi bagian dari budaya luhur masyarakat Papua, sekaligus menjadikan tanah adat sebagai sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan masa depan,” katanya.

Velix melengkapi bahwa tiap-tiap wilayah di Papua menyimpan keunggulan komoditas yang variatif, mulai dari ubi jalar di area pegunungan, tanaman sagu di zona rawa, hingga kopi, kakao, pala, serta ragam tanaman perkebunan lainnya.

Atas dasar itu, skema pembangunan pertanian yang bersandar pada potensi lokal dipandang menjadi strategi jitu dalam melahirkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus berkelanjutan.

Terkini