Hadapi Keluarga Toxic dengan 3 Langkah Tepat agar Tetap Tenang

Senin, 29 Juni 2026 | 23:59:01 WIB
Ilustrasi keluarga toxic.

JAKARTA - Menghadapi anggota keluarga yang terus mengulang perilaku toxic bukanlah hal mudah. Komunikasi buruk, sikap mudah marah, serta keengganan bertanggung jawab sering kali membuat hubungan terasa sangat melelahkan secara emosional.

Banyak orang berharap orang terdekatnya bisa berubah, namun kenyataannya perubahan hanya terjadi jika seseorang memiliki kemauan dari dalam dirinya sendiri. Alih-alih mengendalikan orang lain, lebih baik mengubah cara menyikapi situasi tersebut.

Terapis sekaligus penulis buku Drama Free: A Guide to Managing Unhealthy Family Relationships, Nedra Glover Tawwab, membagikan tiga langkah efektif ketika menghadapi anggota keluarga yang enggan mengubah perilaku negatifnya.

Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda tidak bisa memaksa orang lain untuk berubah. Memaksakan harapan tersebut justru sering berujung pada kekecewaan karena perubahan tidak bisa dipaksakan dari faktor eksternal.

Perubahan umumnya terjadi setelah seseorang mengalami peristiwa besar dalam hidup, seperti kehilangan pekerjaan atau anggota keluarga. "Perubahan biasanya muncul setelah peristiwa besar dalam hidup. Bukan karena seseorang tiba-tiba berpikir, 'Hari ini saya ingin berhenti menyakiti kamu'," ujar Tawwab, Senin (29/6/2026).

Dengan memahami bahwa perilaku orang lain di luar kendali kami, beban emosional akan berkurang. Menerima bahwa kebiasaan lama memang sulit ditinggalkan dapat membantu mengurangi rasa frustrasi dalam menjalin hubungan.

Kedua, sampaikan kebutuhan dan batasan secara jujur sejak awal. Menyadari orang lain tidak bisa dipaksa berubah bukan berarti kami harus diam saat diperlakukan tidak baik. Menyampaikan perasaan dan batasan penting untuk melindungi diri sendiri.

"Tanggapi masalah saat itu terjadi atau tidak lama setelahnya. Jika seseorang melakukan hal yang sama tiga kali, itu sudah menjadi sebuah pola," kata Tawwab. Menyampaikan batasan sejak awal mencegah rasa kesal yang menumpuk.

Langkah terakhir adalah belajar menerima siapa mereka saat ini. Menerima bukan berarti membenarkan perilaku toxic atau membiarkannya terus terjadi, namun menghindari penolakan terhadap kenyataan agar tidak memperpanjang konflik.

"Kamu bisa mencintai keluargamu sekaligus memiliki luka yang mendalam karena hubungan tersebut. Melawan proses menerima hanya akan menciptakan kekacauan yang terus berulang," ujar Tawwab.

Penerimaan bukan berarti berhenti menjaga diri. Jika perilaku mereka terus mengganggu kesehatan mental, kami tetap dapat menjaga jarak atau membatasi intensitas interaksi guna membangun welas asih tanpa mengorbankan diri sendiri.

Terkini