JAKARTA - Desain ulang Samsung Health untuk tahun 2026 membuat aplikasi kesehatan ini berubah cukup drastis dari versi pendahulunya.
Aplikasi tersebut kini hadir dengan tampilan yang lebih penuh warna, sistem navigasi baru, dan deretan fitur yang dipisah secara lebih rapi.
Namun sayangnya, perubahan besar ini ternyata juga memunculkan beberapa masalah baru bagi para pengguna aplikasi tersebut.
Masalah itu antara lain grafik yang belum konsisten, penggunaan warna yang terasa berlebihan, dan kehadiran widget yang tidak sesuai untuk semua jenis perangkat.
Hasil uji coba yang dibagikan oleh Android Authority menunjukkan satu hal sederhana: pembaruan aplikasi ini bukan sekadar urusan kosmetik semata.
Bagi para pengguna setia perangkat Galaxy Watch atau ponsel Samsung, perubahan ini tentu akan sangat memengaruhi pengalaman mereka secara keseluruhan.
Terutama bagi mereka yang rutin memantau jumlah langkah, pola tidur, detak jantung harian, hingga memeriksa komposisi tubuh.
Cara baru aplikasi dalam menyusun data akan berdampak langsung pada seberapa cepat pengguna mampu memahami kondisi kesehatan tubuhnya sendiri.
Bagian yang paling cepat disadari perubahannya oleh para pengguna tentu saja ada pada aspek tampilan antarmuka aplikasi.
Samsung Health versi terbaru kini menggunakan perpaduan warna yang jauh lebih mencolok jika dibandingkan dengan versi sebelumnya.
Versi terdahulu diketahui lebih cenderung mengedepankan aspek fungsionalitas dengan balutan warna yang lebih tenang dan minimalis.
Penggunaan latar bergradasi, kartu widget yang terang, serta sajian grafik penuh warna sukses membuat aplikasi ini terlihat jauh lebih modern.
Akan tetapi, bagi sebagian orang, tampilan baru yang disajikan tersebut justru bisa terasa terlalu sibuk dan membingungkan.
Penulis dari Android Authority yang telah mencoba langsung aplikasi itu mengaku bahwa impresi pertamanya justru bernada negatif.
Ia menilai penggunaan warna baru di dalam Samsung Health lebih terkesan hanya “untuk warna semata” demi menonjolkan estetika.
Warna-warna itu dianggap kurang efektif dalam membantu pengguna untuk bisa membaca data kesehatan mereka dengan lebih cepat.
Dulu, pilihan warna yang digunakan di aplikasi ini memiliki logika sederhana yang sangat mudah dipahami oleh pengguna mana pun.
Sebagai contoh, warna hijau diperuntukkan bagi metrik aktivitas fisik, sedangkan warna biru dikhususkan untuk memantau waktu tidur.
Namun sekarang, hubungan antara pemilihan warna dengan metrik yang diukur tersebut justru terasa kabur dan kurang konsisten.
Warna ungu kini digunakan untuk menunjukkan kalori dan skor tidur, sementara warna biru dipakai untuk sesi latihan dan komposisi tubuh.
Sedangkan indikator untuk tingkat stres dan asupan makanan pada saat ini malah direpresentasikan dengan menggunakan warna oranye.
Secara visual, tampilan baru ini memang terlihat lebih hidup, tetapi dari sisi kemudahan membaca data, perpindahan warna itu belum tentu menguntungkan semua pengguna.
Idealnya, untuk sebuah aplikasi kesehatan, bentuk visual seharusnya dapat membantu serta mendukung fungsi utamanya, bukan justru sebaliknya.
Di balik tampilannya yang terkesan cukup ramai, Samsung sebenarnya membuat sebuah langkah perbaikan yang jauh lebih berguna.
Mereka telah menambahkan sebuah bilah pintasan baru yang ditempatkan secara strategis pada bagian atas layar aplikasi.
Isi dari pintasan tersebut secara langsung mengarah ke berbagai menu inti seperti Activity, Sleep, Vitals, Mindfulness, dan Nutrition.
Tersedia pula opsi dashboard yang berfungsi untuk mengembalikan pengguna ke halaman utama, di mana berbagai widget dapat diatur ulang sesuai dengan kebutuhan spesifik.
Inilah bagian yang dirasa paling masuk akal dan efisien dari keseluruhan proses desain ulang aplikasi Samsung Health ini.
Kalau pada versi sebelumnya pengguna harus mencari-cari letak metrik tertentu di banyak tempat, sekarang tiap kategori sudah dipisah dengan jelas.
Jika ingin melihat opsi Running Coach, pengguna tinggal masuk ke Activity. Begitu pula saat butuh mengecek detak jantung, cukup buka Vitals.
Untuk mengakses berbagai data yang berkaitan dengan gizi, para pengguna kini bisa langsung masuk ke menu Nutrition.
Model navigasi seperti ini terasa jauh lebih rapi, terutama ketika jumlah data kesehatan yang dipantau setiap harinya semakin banyak.
Samsung juga memberikan kebebasan bagi para penggunanya untuk dapat menyusun ulang letak widget yang ada di halaman dashboard.
Pengguna dapat dengan mudah memperbesar atau memperkecil ukuran dari masing-masing kartu sesuai dengan kebiasaan dan preferensi mereka.
Untuk sebuah aplikasi yang sering dipakai setiap hari, kehadiran detail-detail kecil seperti ini menjadi sangat penting dan krusial.
Fitur yang dibutuhkan harus bisa cepat ditemukan, dan data yang tersaji juga harus bisa dengan cepat dibaca serta dipahami.
Walaupun begitu, ketersediaan fitur pencarian di dalam aplikasi ini rupanya masih terasa kurang optimal dan belum memuaskan.
Pihak Android Authority sendiri menilai bahwa perbaikan pada fitur search tentu akan membuat pengalaman pengguna menjadi lebih baik.
Saat jumlah metrik yang tersedia semakin bertambah, pengguna tentu tetap membutuhkan jalan pintas yang lebih praktis dan presisi.
Hal tersebut dikarenakan tidak semua orang mampu menghafal letak pasti dari setiap indikator kesehatan yang tersedia di dalam aplikasi.
Terlebih lagi jika fitur ini digunakan oleh seseorang yang baru pertama kali mencoba memakai perangkat jam tangan pintar.
Pembaruan yang dianggap paling menarik dari aplikasi Samsung Health ini ternyata justru terdapat pada penyajian grafiknya.
Samsung Health saat ini telah resmi mendukung kemampuan pinch-to-zoom pada beberapa bagian tampilan datanya.
Fitur ini memungkinkan para pengguna untuk bisa mempersempit atau justru memperluas rentang dari sekumpulan data.
Kehadiran fitur tersebut tentu sangat berguna pada saat pengguna ingin melihat sebuah pola spesifik pada jam-jam tertentu.
Fitur ini tidak hanya sekadar menampilkan rangkuman angka harian secara umum, melainkan bisa memberikan detail yang jauh lebih rinci.
Masalah utamanya adalah ketersediaan dukungan untuk kemampuan zoom ini rupanya masih belum merata di seluruh bagian aplikasi.
Grafik tidur, sebagai contoh, saat ini masih saja menampilkan garis-garis berukuran kecil yang menunjukkan momen gelisah pengguna di malam hari.
Informasi tersebut memang sangat penting, namun pengguna belum bisa memperbesar detail data untuk melihat lebih jelas pada jam-jam tertentu.
Padahal hal ini bisa dimanfaatkan untuk memeriksa secara langsung apakah gangguan tidur yang terjadi berkaitan dengan masalah suara, perubahan suhu ruangan, atau bahkan kebiasaan spesifik sebelum tidur.
Begitu pula dengan sajian grafik denyut jantung dan juga level oksigen darah saat sesi tidur yang juga belum mendukung kemampuan pinch-to-zoom secara merata di semua bagiannya.
Hal yang terasa semakin ganjil adalah grafik untuk memantau denyut jantung dan tingkat oksigen darah pada saat pengguna sedang terjaga rupanya justru bisa diperbesar.
Situasi seperti ini seakan menunjukkan bahwa ada banyak fitur penting yang dihadirkan, tetapi belum digarap secara tuntas.
Pengalaman menggunakan fitur yang belum sempurna seperti ini pada akhirnya sering kali dirasa lebih mengganggu daripada jika fitur tersebut tidak ada sama sekali.
Karena sejatinya para pengguna sangat memahami besarnya potensi manfaat yang bisa didapatkan, akan tetapi mereka justru belum bisa menggunakannya secara maksimal di seluruh bagian aplikasi.
Keluhan serupa ternyata juga dialami saat mencoba fitur pembandingan data yang telah disediakan di dalam aplikasi ini.
Samsung sebenarnya memang telah menyediakan sebuah opsi bertuliskan “Compare data” di beberapa halaman aplikasi mereka.
Akan tetapi, proses perbandingan yang dapat dilakukan masih sangat terbatas dan hanya berlaku di antara metrik-metrik yang berada di dalam kategori yang sama.
Pengguna misalnya hanya bisa membandingkan total waktu tidur harian dengan skor kualitas tidur mereka di malam tersebut.
Namun sayangnya, pengguna belum diizinkan untuk membandingkan jumlah langkah harian mereka dengan pola waktu tidurnya.
Perbandingan antara intensitas latihan fisik dengan komposisi tubuh juga masih belum bisa dilakukan secara langsung untuk melihat adanya hubungan antar data secara utuh.
Menurut tinjauan dari pihak Android Authority, pembaruan aplikasi ini diyakini sengaja disiapkan untuk dapat mendukung berbagai fitur kesehatan terbaru.
Fitur-fitur tersebut kabarnya akan hadir pada antarmuka One UI 9 dan juga sejumlah perangkat wearable generasi berikutnya, termasuk di antaranya seri Galaxy Watch 9.
Artinya, pengalaman penggunaan aplikasi ini ke depannya akan semakin bergantung pada jenis hardware atau perangkat yang digunakan oleh pengguna.
Masalah selanjutnya yang muncul adalah ternyata tidak semua fitur baru tersebut bisa langsung kompatibel dan mendukung penggunaan di perangkat jam pintar generasi lama.
Salah seorang penguji yang kebetulan masih memakai perangkat Galaxy Watch 4 menemukan sebuah fakta yang cukup menarik sekaligus mengecewakan.
Banyak tampilan dari widget fitur baru rupanya tetap saja muncul di halaman dashboard, padahal nyatanya fitur tersebut tidak didukung oleh perangkat yang ia gunakan.
Situasi seperti ini tentu saja membuat banyak pengguna menyadari keberadaan sebuah fitur baru, tetapi mereka tidak diberikan penjelasan mengapa fitur tersebut tidak bisa digunakan.
Untuk menyikapi perangkat-perangkat generasi lama, pendekatan yang dirasa paling ideal sekaligus ramah pengguna seharusnya cukup sederhana.
Samsung semestinya bisa menyembunyikan saja seluruh fitur yang memang belum didukung oleh suatu perangkat tertentu.
Sebagai opsi lain, mereka bisa saja memberikan sebuah label atau tanda khusus yang jauh lebih tegas dan jelas mengenai keterbatasan dukungan perangkat.
Dengan menerapkan langkah sederhana seperti itu, tampilan halaman dashboard tentu akan tetap terlihat bersih dan terbebas dari berbagai hal yang tidak relevan.
Selain itu, hal tersebut juga tidak akan membuat para pengguna selalu merasa bahwa perangkat lama mereka “kurang canggih” pada saat membuka aplikasi ini.
Pentingnya hal ini sering kali kurang disadari, padahal sebuah aplikasi pemantau kesehatan akan bisa beroperasi dengan optimal apabila memiliki tampilan antarmuka yang memang benar-benar mencerminkan seluruh kemampuan asli dari perangkatnya.
Bagi kalangan pengguna di kawasan Indonesia, adanya perubahan-perubahan ini tentunya memberikan sejumlah dampak yang sangat nyata di kehidupan sehari-hari mereka.
Apalagi mengingat bahwa saat ini memang semakin banyak orang yang mulai memakai jam tangan pintar untuk mendukung gaya hidup sehat mereka.
Mayoritas dari mereka menggunakannya bukan hanya sekadar untuk gaya-gayaan semata, tetapi untuk membantu memantau pola tidur, kualitas olahraga harian, dan juga kondisi kebugaran tubuh secara keseluruhan.
Pada saat tampilan antarmuka dari sebuah aplikasi dibuat terlalu rumit dan ramai, maka seluruh data kesehatan yang ada justru menjadi semakin sulit untuk dibaca dengan cepat.
Sebaliknya, pada saat sistem navigasinya diubah menjadi lebih terstruktur dan rapi, banyak orang tentunya akan dapat jauh lebih mudah dalam menangkap pola kebiasaan hidup mereka.
Kemudahan tersebut selanjutnya diharapkan bisa menjadi pendorong agar mereka bisa segera melakukan perubahan yang diperlukan demi memiliki pola hidup yang lebih sehat.
Di titik inilah nilai manfaat dari sebuah pembaruan desain aplikasi akan benar-benar dapat dirasakan oleh banyak orang.
Harus diakui bahwa secara keseluruhan, aplikasi Samsung Health sesungguhnya masih menyimpan berbagai modal yang sangat kuat untuk bisa bersaing.
Aplikasi ini dibekali dengan kelengkapan basis fitur yang memadai, didukung oleh integrasi yang sangat luas dengan beragam ekosistem perangkat Galaxy lainnya.
Pendekatan penggunaan sistem widget baru tersebut juga terbukti mampu memberikan tingkat fleksibilitas yang sangat tinggi bagi siapa saja.
Akan tetapi, proyek desain ulang yang dilakukan pada tahun 2026 ini sepertinya juga menunjukkan satu buah pelajaran penting yang wajib dipahami oleh banyak pihak.
Hal itu adalah fakta bahwa sebuah aplikasi bidang kesehatan yang berkualitas dan bagus sejatinya bukan cuma tentang seberapa banyak data yang mampu dikumpulkan.
Faktor yang tak kalah krusial adalah mengenai bagaimana cara penyajian sekumpulan data penting tersebut agar nantinya benar-benar bisa dipahami dengan lebih baik dan mudah oleh semua penggunanya.
Pada akhirnya, penulis dari Android Authority merangkum kesan keseluruhan yang ia dapatkan dengan nada yang cenderung campur aduk.
Ia menegaskan bahwa dirinya secara pribadi tidak serta-merta menolak segala jenis pembaruan ini secara sepenuhnya.
Akan tetapi, dirinya juga menyatakan bahwa hingga saat ini ia belum merasa sepenuhnya puas dengan hasil akhir dari pembaruan ini.
Dalam laporannya yang ditulis seusai menggunakan aplikasi tersebut selama berjam-jam, ia mengatakan bahwa, "Ada yang bagus, ada yang buruk."
Untuk aplikasi sebesar Samsung Health, penilaian semacam itu sepertinya justru dirasa sangat pas, relevan, sekaligus jujur.
Sebab memang harus diakui bahwa ada beberapa langkah maju yang terlihat cukup signifikan dari proses desain ulang ini.
Hanya saja, masih sangat disayangkan karena rupanya belum semua bagian yang baru dari aplikasi itu mampu berjalan mulus seperti yang diharapkan.