JAKARTA - Persaingan menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) yang semakin ketat di era suku bunga tinggi mendorong PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mengubah pendekatan bisnis pendanaannya.
BRI memilih untuk memperbesar transaksi nasabah melalui ekosistem digital dibandingkan sekadar melakukan perang suku bunga.
Strategi tersebut menjadi krusial saat industri perbankan menghadapi tekanan likuiditas. BRI menilai kemampuan menciptakan aktivitas transaksi yang tinggi akan menjadi pembeda utama dibandingkan menawarkan bunga simpanan yang agresif.
Langkah ini memungkinkan BRI menjaga daya saing di tengah kenaikan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (18/6/2026). Total kenaikan BI Rate telah mencapai 100 bps dalam dua bulan terakhir.
SEVP Transaction and Retail Funding BRI, Trilaksito Singgih, menjelaskan bahwa penguatan bisnis pendanaan menjadi pilar utama transformasi perusahaan. Fokusnya adalah membangun BRI sebagai transaction bank yang menjadi pusat aktivitas keuangan nasabah.
"Cara kami menumbuhkan DPK kami adalah dengan cara membangun CASA yang lebih bagus. Kami juga memperbaiki komposisi special rate deposito kami buat geser ke yang lebih murah," kata Singgih, Kamis (18/6).
Pertumbuhan DPK BRI kini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuan menarik simpanan baru, melainkan melalui aktivitas transaksi di aplikasi BRImo yang menciptakan dana mengendap lebih stabil. Strategi digital ini terbukti efektif menekan cost of fund BRI dari kisaran 3% menjadi sekitar 2,3% pada kuartal I/2026.
Transformasi ke arah bisnis transaksional pun mendapat respons positif dari analis. Tim analis Samuel Sekuritas menilai perbaikan komposisi dana murah menjadi faktor utama yang menopang prospek kinerja BRI tahun ini.
"Peningkatan ini membantu menurunkan biaya pendanaan hingga akhir tahun, memberikan penyangga tambahan terhadap potensi normalisasi margin pada tahun 2026," ungkap riset tersebut.
Sementara itu, MNC Sekuritas juga menyoroti penetrasi BRImo yang berhasil mendorong pertumbuhan dana murah ritel. Meskipun terdapat tantangan dari rencana penurunan bunga KUR, kemampuan BRI memperbesar basis dana murah dinilai menjadi faktor kunci menjaga profitabilitas.
Kedua lembaga sekuritas tersebut masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBRI, dengan target harga masing-masing sebesar Rp4.400 dan Rp4.050 per saham.