Ilmuwan Ungkap Penyebab Sebagian Orang Sering Digigit Nyamuk

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:59:01 WIB
Ilustrasi Bekas Gigitan Nyamuk.

JAKARTA - Pernahkah merasa menjadi satu-satunya target yang terus diincar nyamuk sedangkan orang lain di sekitar tampak aman? Ternyata, anggapan bahwa nyamuk lebih gemar mendekati orang tertentu bukanlah mitos belaka.

Menukil laporan Science Alert (17/6/2026), jajaran ilmuwan saat ini kian memahami motif di balik fenomena unik tersebut. Kuncinya rupanya bertumpu pada perpaduan aroma tubuh, embusan karbon dioksida, hingga zat tertentu dari kulit.

Menurut pakar entomologi medis dari Institut Penelitian untuk Pembangunan Prancis, Frederic Simard, nyamuk memang terpikat pada sebagian orang lebih kuat dibanding yang lain.

"Ini bukan kesalahpahaman. Nyamuk memang tertarik pada sebagian orang lebih dibandingkan orang lain," kata Simard kepada AFP.

Meski begitu, ia memberikan catatan bahwa seseorang tidak bakal selalu memosisikan diri menjadi "magnet nyamuk" di setiap waktu.

Para peneliti menguraikan bahwa nyamuk betina, yang menjadi satu-satunya jenis nyamuk pengisap darah manusia, memanfaatkan aneka petunjuk sensorik guna melacak targetnya.

Indikator pertama yang diendus ialah karbon dioksida yang diproduksi saat manusia bernapas.

Ilmuwan asal Swedia, Rickard Ignell, menyebutkan jajaran peneliti sebetulnya telah mengetahui selama seabad lebih kalau karbon dioksida menjadi pemicu awal pergerakan nyamuk dalam memburu mangsa.

"Kami telah mengetahui lebih dari 100 tahun bahwa nyamuk tertarik pada karbon dioksida yang kami embuskan. Ini adalah sinyal pertama yang memicu perilaku mereka," ujar Ignell.

Menurut penjelasannya, tatkala nyamuk berada pada radius sekitar 10 meter, serangga ini mulai mengendus aroma tubuh manusia. Perpaduan bau badan dan gas karbon dioksida membuat manusia kian memikat bagi nyamuk.

Ketika posisinya makin merapat, faktor temperatur suhu tubuh serta tingkat kelembapan kulit ikut mengambil peran dalam menentukan sasaran yang bakal digigit.

Selama bertahun-tahun, beredar bermacam teori yang menyebutkan nyamuk lebih menggemari golongan darah tertentu. Namun, Simard menyatakan asumsi tersebut belum mengantongi basis ilmiah yang valid.

"Gagasan bahwa nyamuk lebih menyukai golongan darah tertentu tidak memiliki dasar ilmiah," kata Simard.

Ia juga menandaskan bahwa indikator warna kulit, warna mata, hingga corak warna rambut sama sekali tidak terbukti memengaruhi level ketertarikan nyamuk.

Sebaliknya, faktor yang memegang kendali paling krusial ialah aroma tubuh. Menurut Simard, fisik manusia memproduksi kombinasi molekul bau kompleks yang sebagiannya sangat disukai nyamuk.

Hasil studi memperlihatkan tubuh manusia sanggup memproduksi 300 sampai 1.000 senyawa aroma yang variatif. Namun, ilmuwan masih mendalami senyawa spesifik mana yang paling memicu daya tarik nyamuk.

Dalam riset mutakhir yang dikomandoi Ignell, tim peneliti memantau preferensi nyamuk Aedes aegypti, jenis penyebar demam berdarah dan demam kuning, terhadap 42 perempuan di ruangan laboratorium.

Hasil pengujian membuktikan nyamuk memakai perpaduan beragam senyawa aroma tubuh untuk mengunci sasaran mereka.

Tim peneliti sukses memetakan 27 senyawa yang diendus oleh nyamuk dari estimasi 1.000 senyawa yang diproduksi oleh tubuh manusia.

Kelompok perempuan yang paling sering menjadi target gigitan, termasuk beberapa di antaranya yang tengah hamil trimester kedua, terpantau menghasilkan lebih banyak senyawa bernama 1-octen-3-ol atau "alkohol jamur".

Zat kimia ini bersumber dari proses pemecahan sebum, yakni minyak alami yang dilepaskan oleh pori-pori kulit.

Ignell mengaku cukup terkejut karena sedikit saja lonjakan kadar senyawa tersebut rupanya sudah memadai untuk menjadikan seseorang lebih memikat di mata nyamuk.

Di samping faktor aroma tubuh asli, sejumlah riset menemukan fakta bahwa aktivitas mengonsumsi bir dapat mengerek risiko gigitan nyamuk.

Menurut estimasi para peneliti, bir mampu mendongkrak suhu tubuh, volume karbon dioksida yang diembuskan, serta mengubah karakteristik aroma pada kulit.

Dalam eksperimen di Burkina Faso, nyamuk Anopheles yang membawa parasit malaria lebih terpikat pada individu yang baru menenggak bir dibanding mereka yang tidak mengonsumsinya.

Sementara riset di Belanda pada 2023 yang melibatkan 465 sukarelawan mendapati orang yang meminum bir dalam kurun 24 jam terakhir mengantongi probabilitas 1,35 kali lebih tinggi memicu perhatian nyamuk.

Lewat makin meluasnya wilayah penyebaran nyamuk imbas efek perubahan iklim, memahami pemicu yang membuat seseorang rentan digigit menjadi hal yang kian krusial.

Sebagai langkah mitigasi, Simard menganjurkan pemakaian pakaian longgar yang menutupi kulit, pemasangan kelambu, serta pengolesan losion antinyamuk. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak berlebihan dalam mengonsumsi alkohol.

"Cobalah makan dalam porsi ringan dan kurangi alkohol," kata Simard.

Terkini