JAKARTA - Aktivitas mengonsumsi suplemen vitamin kini telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup bagi mayoritas masyarakat modern.
Beberapa jenis suplemen yang sangat populer di pasaran di antaranya meliputi vitamin C, vitamin D, magnesium, hingga asam lemak omega-3.
Demi merengkuh hasil yang maksimal, tidak cukup hanya dengan meminumnya secara teratur, melainkan tata cara konsumsinya juga harus diperhatikan.
Faktor ketepatan waktu minum serta perpaduan dengan jenis makanan tertentu terbukti ikut memengaruhi tingkat efektivitas penyerapan khasiatnya oleh organ tubuh.
Dokter naturopati kesehatan perempuan integratif, Saru Bala, memaparkan bahwa momentum saat menelan suplemen memang memegang peranan yang sangat krusial.
"Namun hal itu bergantung pada jenis bahan yang dikonsumsi, bagaimana proses penyerapannya, apakah memengaruhi energi atau tidur, dan apakah perlu dikonsumsi bersama makanan untuk mencegah gangguan pencernaan atau meningkatkan penyerapan," tutur dr. Bala.
Kendati demikian, menurut pandangannya pribadi, indikator yang menempati kasta paling utama dalam suplemen ini tetaplah konsistensi dari penggunanya.
Metode meminum rangkaian suplemen vitamin secara sekaligus dalam satu waktu memang terasa jauh lebih efisien untuk rutinitas harian.
Akan tetapi, para pakar kesehatan justru menyebutkan ada beberapa tipe zat gizi yang dapat bekerja jauh lebih optimal jika ditelan pada waktu berbeda, contohnya zat besi.
Dokter spesialis kandungan sekaligus salah satu pendiri Perelel, Banafsheh Bayati, menerangkan zat besi paling ideal dikonsumsi ketika kondisi lambung masih kosong.
Waktu yang paling direkomendasikan untuk menelan suplemen zat besi ini yaitu sesaat setelah kamu terbangun dari tidur di pagi hari.
Asupan zat besi juga sangat disarankan untuk dipadukan bersama vitamin C agar proses penyerapannya di dalam tubuh bisa berlangsung secara maksimal.
Guna menyiasati hal ini, kamu bisa memanfaatkan segelas jus jeruk segar sebagai pendamping minum zat besi untuk menggantikan peran suplemen vitamin C.
Meskipun pendampingan dengan jus buah jeruk diperbolehkan, konsumsi minuman seperti kopi dan teh sebaiknya ditunda terlebih dahulu untuk sementara waktu.
Hal tersebut dikarenakan kandungan kafein yang terdapat di dalam kopi maupun teh dapat menghambat proses penyerapan zat besi oleh sistem pencernaan.
Selain suplemen zat besi, asupan suplemen probiotik juga sangat dianjurkan untuk dikonsumsi sebelum sarapan guna menjaga kesehatan dinding usus.
Berbeda dengan karakteristik vitamin C yang mudah larut di dalam air, jenis vitamin A, D, E, dan K tergolong ke dalam kelompok vitamin larut lemak.
Golongan vitamin tersebut akan jauh lebih mudah diserap oleh metabolisme tubuh apabila dikonsumsi bersamaan dengan makanan yang mengandung lemak sehat.
Menu camilan ringan seperti kacang-kacangan ataupun hidangan roti panggang dengan buah alpukat dapat dijadikan sebagai opsi pendamping yang sangat baik.
Sementara itu, suplemen zinc yang berkhasiat mendukung imunitas tubuh sebaiknya dikonsumsi pada siang hari bersamaan dengan kudapan ringan.
Alasan mendasar dari pengaturan ini karena zat mineral zinc berpotensi memicu timbulnya rasa mual jika dipaksakan masuk saat kondisi perut sedang kosong.
Dr. Bala juga memberikan rekomendasi untuk mengonsumsi suplemen L-theanine seusai kamu meminum kopi atau teh di waktu pagi hari.
"L-theanine adalah asam amino alami yang ditemukan dalam teh hijau. Senyawa ini membantu menciptakan kondisi tenang namun tetap fokus tanpa menyebabkan rasa kantuk," jelasnya.
Ketika mendekati waktu malam hari, sejumlah jenis suplemen tertentu dinilai akan jauh lebih cocok apabila dikonsumsi mendampingi menu makan malam.
Asam lemak omega-3 serta multivitamin sangat dianjurkan untuk diminum bersama santapan yang kaya akan lemak sehat, seperti olahan ikan atau minyak zaitun.
Suplemen magnesium juga tergolong sangat digemari, tetapi regulasi waktu meminumnya akan sangat bergantung pada variasi jenis magnesium yang kamu pilih.
"Magnesium glisinat dapat ditoleransi dengan baik kapan saja sepanjang hari, sedangkan magnesium sitrat atau magnesium oksida dalam dosis lebih tinggi pada malam hari dapat membantu menjaga keteraturan buang air besar," ungkap dr. Bala.
Beberapa varian dari magnesium bahkan telah terbukti secara klinis mampu membantu meningkatkan kualitas tidur jika dikonsumsi sekitar satu hingga satu setengah jam sebelum beristirahat.
Selain regulasi waktu konsumsi, perpaduan kombinasi antar-jenis suplemen yang masuk ke dalam tubuh juga wajib mendapatkan perhatian khusus.
Dr. Bayati menegaskan, beberapa zat mineral seperti zat besi, zinc, magnesium, serta kalsium dapat saling berebut jalur dalam proses penyerapan jika diminum bersamaan dalam takaran dosis tinggi.
"Ini bukan berarti semuanya tidak boleh dikombinasikan sama sekali, tetapi suplemen mineral yang ditargetkan untuk kebutuhan tertentu mungkin perlu diberi jeda waktu konsumsi," ujar dr. Bayati kepada Harper's Bazaar.
Namun sebaliknya, terdapat pula formula kombinasi suplemen yang justru akan saling mendukung, seperti kolaborasi antara vitamin C dengan zat besi.