Kemenhub Percepat Pemanfaatan Bioavtur Demi Transportasi Udara Rendah Emisi

Senin, 19 Januari 2026 | 13:42:11 WIB
Kemenhub Percepat Pemanfaatan Bioavtur Demi Transportasi Udara Rendah Emisi

JAKARTA — Upaya menekan jejak karbon di sektor penerbangan nasional mulai diarahkan pada pemanfaatan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan. 

Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap perubahan iklim, transportasi udara menjadi salah satu sektor strategis yang dituntut bertransformasi tanpa mengorbankan keselamatan dan keberlanjutan operasional.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan komitmennya untuk mendorong penggunaan bioavtur sebagai bagian dari langkah jangka panjang menuju sistem transportasi udara rendah emisi. Inisiatif ini dinilai penting untuk mendukung target penurunan emisi karbon nasional sekaligus menjaga daya saing industri penerbangan Indonesia di masa depan.

Bioavtur sebagai Pilar Transisi Energi Penerbangan

Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Transportasi Kementerian Perhubungan, Dodhy, menyampaikan bahwa sektor penerbangan memiliki peran krusial dalam pencapaian target iklim nasional. Oleh karena itu, transisi energi di sektor ini perlu dilakukan secara bertahap dan terukur.

“Bioavtur merupakan bagian dari upaya mewujudkan transportasi udara rendah emisi. Ini tidak hanya mendukung komitmen penurunan emisi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sektor penerbangan ke depan,” ujarnya saat ditemui selepas acara Booth Camp Future Leaders in Sustainable Transport (FIRST) di Jakarta.

Menurut Kemenhub, bioavtur menjadi salah satu solusi yang dinilai realistis untuk menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil berbasis avtur konvensional, tanpa mengganggu aspek keselamatan penerbangan yang menjadi prioritas utama.

Menekan Emisi Tanpa Mengorbankan Keselamatan

Pengembangan dan pemanfaatan bioavtur dipandang sejalan dengan kebutuhan industri penerbangan yang menuntut bahan bakar berkualitas tinggi dan aman digunakan. Kemenhub menilai bahwa inovasi ini dapat diterapkan tanpa mengubah standar keselamatan penerbangan maupun mengganggu operasional maskapai.

Selain itu, penggunaan bioavtur dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi industri energi nasional, khususnya dalam mendorong pemanfaatan sumber energi terbarukan yang berasal dari dalam negeri. Dengan demikian, transisi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada ketahanan energi nasional.

Baca juga: KESDM Nilai Olahan Jelantah sebagai SAF Senada Misi Ketahanan Energi

Selaras dengan Komitmen Iklim Nasional

Dodhy menegaskan bahwa pemanfaatan bioavtur sejalan dengan kebijakan nasional dalam pengendalian perubahan iklim serta komitmen Indonesia untuk mendukung transisi energi bersih di sektor transportasi, termasuk penerbangan sipil.

Langkah ini juga dinilai sejalan dengan tren global, di mana banyak negara mulai mendorong penggunaan sustainable aviation fuel (SAF) sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi industri penerbangan. Dengan mengikuti arah kebijakan tersebut, Indonesia diharapkan tidak tertinggal dalam agenda global menuju ekonomi rendah karbon.

Tantangan Kapasitas dan Isu Keberlanjutan Bahan Baku

Meski telah mulai diterapkan secara terbatas, Kemenhub mengakui bahwa implementasi bioavtur untuk armada penerbangan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan kapasitas produksi serta isu keberlanjutan bahan baku.

“Ya, bioavtur sudah ada, avtur yang diolah dari minyak jelantah yang sementara sudah dipakai maskapai Pelita Air, cuman kan kapasitasnya juga belum cukup. Kendalanya sawit masih menjadi isu orang menganggap belum sustainable,” kata Dodhy.

Isu keberlanjutan sawit menjadi perhatian penting karena persepsi global terhadap dampak lingkungan dari komoditas tersebut. Oleh karena itu, pembuktian bahwa bahan baku bioavtur benar-benar berkelanjutan menjadi kunci agar pemanfaatannya dapat diterima secara luas, baik di dalam maupun luar negeri.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Implementasi

Kemenhub menekankan bahwa keberhasilan pemanfaatan bioavtur tidak dapat dicapai secara sepihak. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan kementerian dan lembaga terkait, industri penerbangan, serta penyedia energi agar implementasi bioavtur dapat berjalan bertahap dan berkelanjutan.

Sinergi tersebut mencakup penguatan regulasi, peningkatan kapasitas produksi, hingga pengembangan ekosistem pendukung yang memastikan ketersediaan bioavtur secara konsisten dan kompetitif.

“(Untuk langkah ke depan) sawit untuk bioavtur ini kita harus bisa membuktikan bahwa bahan bakunya itu sustainable,” cetusnya.

Komitmen Menuju Transportasi Udara Berkelanjutan

Kementerian Perhubungan menegaskan komitmennya untuk terus mendorong inovasi serta memperkuat tata kelola lingkungan di sektor transportasi udara. Langkah ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya sistem transportasi nasional yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Ke depan, pemanfaatan bioavtur tidak hanya dipandang sebagai solusi teknis, tetapi juga sebagai bagian dari transformasi besar industri penerbangan Indonesia. Dengan pendekatan bertahap dan kolaboratif, bioavtur diharapkan mampu menjadi fondasi penting dalam perjalanan menuju transporta

Terkini