Harga Minyak Dunia Stabil Menjelang Rapat OPEC Plus pada 29 November 2025

Sabtu, 29 November 2025 | 11:08:17 WIB
Harga Minyak Dunia Stabil Menjelang Rapat OPEC Plus pada 29 November 2025

JAKARTA - Harga minyak dunia memasuki akhir pekan dengan pergerakan yang relatif tenang, mencerminkan sikap hati-hati pasar menjelang keputusan penting OPEC+ serta perkembangan terbaru dari negosiasi Rusia–Ukraina.

Stabilnya harga ini memperlihatkan bahwa pelaku pasar menimbang berbagai faktor yang bersamaan memengaruhi arah komoditas energi, mulai dari gangguan teknis pada perdagangan minyak mentah AS hingga kekhawatiran atas potensi surplus minyak global yang terus menghantui sentimen investor.

Dalam kondisi tersebut, pasar minyak tidak hanya bereaksi terhadap data teknis maupun fundamental, tetapi juga menaruh perhatian besar pada dinamika geopolitik yang berpotensi mengubah arah harga dalam waktu singkat. Situasi yang kompleks ini menjadikan perdagangan minyak dunia lebih dipenuhi ekspektasi, terutama menjelang rapat OPEC+ Minggu mendatang yang dinilai akan memberikan sinyal kuat terkait kebijakan produksi berikutnya.

Perdagangan minyak mentah AS kembali berjalan setelah sempat terhenti akibat gangguan sistem pendinginan di pusat data CyrusOne yang memengaruhi CME Group. Sementara itu, minyak Brent tetap aktif diperdagangkan di bursa ICE tanpa gangguan teknis.

Pergerakan Harga Minyak Masih Terkendali

Kontrak Brent pengiriman Januari yang akan berakhir pada Jumat ini ditutup melemah USD 0,14 atau 0,22% menjadi USD 63,20 per barel. Adapun West Texas Intermediate (WTI) berakhir di USD 58,55 per barel, turun USD 0,10 atau 0,17% dibanding penutupan Rabu. Tidak ada penutupan pasar pada Kamis karena libur Thanksgiving di AS.

Kendati berada dalam tren penurunan bulanan selama empat bulan berturut-turut—yang menjadi rangkaian terpanjang sejak 2023—baik Brent maupun WTI masih mencatat kenaikan lebih dari 1% sepanjang pekan ini. Hal ini menggambarkan bahwa pasar masih menemukan momentum pemulihan meski tekanan oversupply terus membayangi.

Potensi Surplus Menekan Sentimen Harga

Ekspektasi meningkatnya pasokan global menjadi faktor utama yang meredam kenaikan harga minyak dunia. Di sejumlah wilayah, margin kilang yang masih kuat memang membantu menopang permintaan, namun kondisi ini belum cukup untuk mengimbangi kekhawatiran surplus global.

Analis Rystad, Janiv Shah, menjelaskan bahwa potensi kelebihan pasokan merupakan sentimen bearish yang terus membebani harga. Survei internasional terhadap 35 ekonom memprediksi harga Brent rata-rata pada 2026 berada di USD 62,23 per barel, turun dari proyeksi sebelumnya USD 63,15. Sepanjang 2025, harga Brent tercatat mencetak rata-rata USD 68,80 per barel.

Di sisi lain, negosiasi damai Rusia–Ukraina turut memberikan warna tersendiri pada pergerakan harga. Harapan tercapainya kesepakatan sempat menekan harga di awal pekan, namun pasar kembali menguat dalam tiga sesi terakhir karena pembicaraan yang berlangsung alot dan belum menghasilkan titik terang.

Senior Vice President BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan bahwa pasar sebelumnya telah mengantisipasi kemungkinan kesepakatan damai sehingga harga sempat tertekan. “Namun saat ini masih sangat sedikit informasi, dan jika tidak tercapai kesepakatan, kemungkinan akan ada sanksi yang lebih ketat terhadap ekspor minyak Rusia,” ujarnya.

Arah Pasar Menunggu Sinyal OPEC Plus

Menjelang rapat OPEC+ pada Minggu, sumber internal menyebutkan bahwa kelompok produsen minyak tersebut kemungkinan akan mempertahankan level produksi yang berlaku saat ini. Selain itu, diskusi penting lain yang akan dibahas adalah penyempurnaan mekanisme untuk menilai kapasitas produksi maksimum setiap negara anggota.

Arab Saudi, sebagai eksportir minyak terbesar dunia, juga menjadi perhatian pasar setelah diperkirakan akan kembali menurunkan harga jual resmi (Official Selling Price/OSP) untuk pembeli Asia pada Januari. Jika keputusan ini diambil, langkah tersebut akan menjadi penurunan harga kedua berturut-turut sekaligus menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir.

Penyesuaian harga oleh Arab Saudi ini dipicu oleh pasokan yang melimpah dan proyeksi surplus minyak global yang semakin nyata. Pasar menilai kebijakan harga Saudi akan sangat memengaruhi kompetisi di pasar Asia, salah satu wilayah konsumen energi terbesar di dunia.

Dalam beberapa pekan ke depan, keputusan OPEC+ serta strategi harga Saudi diperkirakan menjadi penentu utama arah pergerakan harga minyak dunia. Pelaku pasar kini menanti apakah kelompok produsen akan memberikan kejutan kebijakan atau tetap mempertahankan pendekatan berhati-hati di tengah kondisi geopolitik yang tidak pasti dan potensi kelebihan pasokan yang membayangi pasar glob

Terkini

Cek paket Zalora: Panduan Lengkap Melacak Pesananmu

Minggu, 30 November 2025 | 12:17:46 WIB

Update Harga iPhone 13 di iBox Terbaru 2025

Minggu, 30 November 2025 | 12:17:45 WIB

10 Aplikasi Menulis di Android 2025

Minggu, 30 November 2025 | 10:17:06 WIB

Harga HP Tecno Pova 5 dan Spesifikasinya di Indonesia

Minggu, 30 November 2025 | 10:17:00 WIB